Saturday, July 7, 2018

Liburan Singkat ke Krui, Pesisir Barat, Lampung

Liburan Singkat ke Krui, Pesisir Barat, Lampung

Kapan ya terakhir kali liburan keluarga? Wow sudah lama banget, tepatnya akhir 2015 waktu Rayyaan belum punya adik. Razqa nih yang belum pernah diajak liburan. Ciyan deh kamu, Dek he he. Mumpung masih ada beberapa hari libur Idul Fitri, sebelum Papa ngantor lagi yuk jalan-jalan dulu, liburan singkat ke Krui, Pesisir Barat, Lampung.

Alasan Memilih Krui, Pesisir Barat, Lampung


Kenapa pilih liburan ke Krui? Ya pertama karena belum pernah ke sana. Kedua, ada Ontinya anak-anak dinas di sana. Ketiga karena lagi nggak mood liburan nyebrang pulau Sumatera hi hi.

Baca: Jepret Asyik di Puncak Mas, Lampung.

Keempat karena pengen main-main di pantai di Pesisir Barat, Lampung. Buat yang belum tau, Pesisir Barat adalah kabupaten termuda di Provinsi Lampung. Daerah ini terkenal akan pantainya terutama di kalangan wisatawan yang menyukai olahraga surfing alias berselancar.

Kapal di Labuhan Jukung.

Jaman saya belum tau ada pantai yang namanya Tanjung Setia tuh turis mancanegara ternyata sudah banyak yang mampir ke tempat itu buat berselancar. Tapi main ke Pesisir Barat ya nggak harus bisa surfing dulu laaah. Kita masih bisa main air dan jalan-jalan di pinggir pantai sambil menikmati dan mengabadikan suasananya (baca: belajar motret he he). 

Persiapan Traveling dengan Bayi dan Balita


Bu-ibu pergi main yang masih di dalam kota kalau bawa anak bayi atau balita bawaannya bisa segambreng he he. Nah kalau ngajak dua anak usia 1,5 dan 5,5 tahun liburan singkat, apa aja yang dibawa ya? Tapi berhubung perginya naik mobil sendiri jadi nggak perlu cemas soal barang bawaan. Masukkan aja semuanya ke bagasi he he. Secara umum ada 11 jenis perlengkapan yang saya bawa:

1. Baju ganti. Bawa baju ganti lebih karena anak-anak pasti sering tergoda main air di pantai. Bawa kantung plastik untuk membungkus baju kotor, pisahkan baju kotor basah dan kering.

2. Selimut dan baju hangat. Udara bisa jadi terasa dingin untuk anak-anak saat di perjalanan melewati kawasan Bukit Barisan Selatan dan malam hari saat menginap di pinggir pantai.

Razqa tidur di perjalanan.

3. Kabel dan teko listrik. Antisipasi di kamar cottage/penginapan tidak ada fasilitas teko listrik atau air hangat di kamar mandi.

Baca: Cegah Gigitan Nyamuk dengan Lotion yang Aman untuk Bayi.

4. Camilan untuk mengganjal perut di perjalanan juga mencegah kantuk bagi yang dewasa terutama drivernya.

5. Perlengkapan mandi. Tidak semua pengelola cottage menyediakan perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, dan sampo.

Sebelum berangkat.

6. Obat-obatan. Meski hanya trip singkat tapi saya tetap bawa obat penurun panas untuk anak, minuman herbal untuk cegah masuk angin, multivitamin, minyak telon, plester, obat luka, dan koyo.

7. Kamera dan smartphone. Batere kamera masih cukup oke jadi saya jarang bawa charger. Smartphone lebih praktis untuk foto-foto dan merekam video tapi lebih baik bawa powerbank.

8. Bekal dan perlengkapan makan. Saya siapkan makan siang dalam kotak bekal untuk perjalanan ke Pesisir Barat supaya tidak bocor kemana-mana, bisa dicuci, digunakan kembali, dan mengurangi sampah.

Baca: 7 Tips Merencanakan Liburan Akhir Tahun Nyaman dan Ceria Bersama Anak.

9. Kartu operator seluler yang sinyalnya kuat untuk keperluan komunikasi.

10. Perlengkapan di mobil seperti tools kit, payung, senter, dan charger.

11. Sunblock termasuk yang untuk anak-anak. 

Rute ke Pesisir Barat Lampung


Jarak dari Bandar Lampung ke Pesisir Barat memang lumayan jauh sekitar 250 km. Menurut Eyangkung yang rajin buka peta selama di perjalanan, kami menempuh jarak 280 km lebih ha ha. Waktu tempuh normal sekitar 6 jam, kalau kurang dari itu berarti ya ngebut banget deh. Tapi jalan normal aja deh apalagi baru pertama kali ke sana dan masih dalam suasana mudik Lebaran jadi jalur Lintas Barat Sumatera cukup ramai.

Polisi dan Kakak Pramuka yang mengamankan arus mudik di Pesawaran.

Ini nih rute yang kami lalui, Kota Bandar Lampung - Kabupaten Pesawaran - Kabupaten Pringsewu - Kabupaten Tanggamus - Kabupaten Pesisir Barat. Kami berangkat jam 09.30 dan berhenti untuk ishoma di Masjid Imaduddin, Kecamatan Semaka, Tanggamus.

Baca: 7 Hal yang Bisa Kita Lakukan Bersama Keluarga dan Sahabat di Djunjungans Negeri Sakti, Lampung.

Air di Masjid Imaduddin, Semaka.
Melimpah ruah dan seger banget!

Saat suasana mudik memang banyak yang berhenti di masjid ini untuk beristirahat. Yang unik adalah karena letaknya yang di kaki gunung jadi airnya melimpah ruah. Tidak ada keran, air dibiarkan mengalir begitu saja. Seger banget untuk wudhu dan membasuh penat setelah beberapa lama duduk di mobil.

Di perjalanan, kanan-kiri banyak pohon.

Setelah ishoma dimulailah perjalanan mendaki gunung melewati lembah he he. Saat menuju Kota Agung juga ada jalan berkelok, tapi jalur di Bukit Barisan Selatan lebih istimewa karena lebih banyak kelokannya. Di kawasan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan yang kami lihat hanya pohon dan pohon, ya wajar saja karena ini area yang dilindungi.

Ntah berapa lama dan berapa kilometer jaraknya jalur Bukit Barisan Selatan ini, tapi alhamdulillah bisa keluar jalur ini saat matahari masih terang dan sampai di Krui sesaat sebelum maghrib.

Penginapan di Pesisir Barat Lampung


Dua malam di Pesisir Barat kami menginap di dua tempat berbeda. Malam pertama di Villa Monalisa Stabas dan kedua di cottage milik Dinas Pariwisata Pesisir Barat. Untuk teman-teman yang mungkin sedang cari rekomendasi penginapan di Pesisir Barat, saya share review singkatnya ya.

Villa Monalisa Stabas


Letaknya di pinggir pantai dan semacam semi private jadi nggak banyak orang keluar masuk atau hilir mudik di pantainya. Pengunjung yang kami temui adalah yang sedang menginap di tempat ini juga atau di cottage sebelah.

Di sekitar cottage cukup banyak pepohonan jadi suasanya teduh. Pantainya sendiri cukup bersih tapi memang banyak batu karang dan kerang yang terbawa ombak. Cocok banget untuk menikmati sunset atau sunrise sambil berjalan di pantai.

Villa Monalisa Stabas.
Kamar kami yang kiri bawah.

Kamar yang kami tempati adalah tipe Tuna, cukup luas berukuran kira-kira 3x4 meter dengan kamar mandi di dalam. Selain tempat tidur, ada meja tulis, TV, meja kecil, kursi, dan AC. Kamar mandi dengan kloset duduk, ada shower, dan tong air plus gayung.

Villa Monalisa Stabas di malam hari.

Untuk tamu disediakan sabun, pasta gigi, dan sikat gigi tapi tidak ada handuk dan fasilitas air hangat. Di kamar kami ACnya kurang dingin jadi ada tambahan kipas besar. Tapi di malam hari toh dimatikan juga karena udara di tepi pantai dingiiin.

Baca: Review Elenor's Home Eyckman, Bandung.

Di pagi hari tamu bisa sarapan di semacam 'rumah induk'. Di sini ada beberapa meja bundar plus kursi seperti layaknya tempat makan di penginapan atau hotel. Saat itu kami dapat pilihan menu berupa nasi, telur dadar, dan ikan potong goreng.

Yang di belakang mobil itu tempat makannya.

Selain itu ada dua jenis masakan berkuah santan, yang satu isinya jengkol dan yang satu kacang merah. I'm not a jengkol eater so I skipped it ha ha. Selain itu sedang nggak pengen makan yang bersantan.

Rebahan di kamar.

Untuk minumanya ada teh, kopi, dan air mineral. Nggak hanya itu, ada juga buah melon dan kue tradisional. Buat saya dan anak-anak sih asal ada nasi dan telur dadar, urusan makan itu aman he he.

Rate saat menginap di sini di momen libur Idul Fitri adalah Rp 500.000/malam, soalnya musim ramai sih ya. Di hari biasa mungkin ratenya bisa lebih murah. Untuk pemesanan kamar bisa menghubungi nomor +62 813-8004-8000 (Bpk Arif).

Pantai di belakang Villa Monalisa Stabas.

Cottage Labuhan Jukung


Cottage dengan 4 kamar ini dikelola Dinas Pariwisata Pesisir Barat. Bentuknya seperti rumah panggung jadi untuk menuju ke kamar kita harus menaiki tangga. Sesuai namanya tempat ini terletak di area Pantai Labuhan Jukung. Untuk masuk ke area ini kita membayar Rp 10.000 untuk satu kendaraan. Nggak hanya yang mau menginap saja, tapi yang mau main-main di pantai ini asal bayar tiket bisa masuk. Jadi di area sekitar cottage memang lebih ramai.

Cottage di Labuhan Jukung.

Kamarnya nggak begitu besar mungkin sekitar 3x2,5 meter dengan kamar mandi di dalam. Di dalam kamar ada tempat tidur, TV, dan AC. Itu aja? Sebenarnya ada meja kecil dan kursi juga tapi 1 meja dipindah ke kamar Eyangkung dan kursi diletakkan di luar.

Baca: Review Hotel Buah Sinuan Lambang.

Bisa langsung main di pantai.

ACnya dingin tapi lagi-lagi di malam hari kami matikan. Kamar mandi dengan kloset duduk, ada wastafel, ember besar, dan gayung. Tidak ada fasilitas air hangat, handuk, sabun, atau toiletries lain.

Ngemil dulu ah.

Tepat di sebelah cottage ada warung kecil, yang berjualan adalah penjaga cottage ini. Jadi kalau mau beli teh, kopi, air kelapa muda, atau mie instan ya dekat. Di depan cottage ada beberapa pondokan yang malam itu dipakai tidur anggota komunitas motor. Apa nggak kedinginan yak? Ha ha.

Meski kawasan pantainya ramai tapi cukup aman parkir kendaraan (mobil) di depan cottage. Rate menginap di sini Rp 300.000/malam untuk setiap kamarnya. Untuk pemesanan kamar kita bisa menghubungi nomor +62 822-8117-5509 (Bpk Eko).

Pantai di Pesisir Barat Lampung


Pesisir Barat Lampung obviously paling terkenal dengan wisata pantainya. Selain pantai di belakang cottage Villa Monalisa Stabas, kami juga main-main di Pantai Mandiri dan Pantai Labuhan Jukung. Di Pantai Mandiri Pesisir Barat kami hanya numpang piknik makan siang. Rayyaan sempat main air juga dengan kakak-kakaknya.

Sunrise di belakang Villa Monalisa Stabas.

Baru pertama kali ke pantai nih.

Enaknya main air di pagi hari.

Di sini pantainya lebih bersih dalam arti nggak terlalu banyak kerang dan teman-temannya yang terbawa ombak ke tepi pantai. Tapi pasirnya ada yang seperti mengandung pasir besi. Sayangnya sih kelupaan ambil sejumput untuk mengetesnya dengan magnet he he.

Baca: Main Air di Pantai Mutun Pulau Tembikil, Lampung.

Di Pantai Mandiri ombaknya lebih besar.
Jadi jangan nyemplung ya.

Setelah makan siang.

Onti dan Nadine.

Pantai berikutnya yang kami datangi adalah Pantai Labuhan Jukung Pesisir Barat. Di atas sudah saya ceritakan sedikit ya tentang pantai ini. Di sini banyak penjual makanan dan ada juga penjual baju serta mainan. Saat kami berkunjung pantai ini ramai sekali. Selain karena memang musim liburan dan banyak pengunjung dari daerah lain sepertinya warga sekitar juga sering berkunjung kemari.

Di Pantai Labuhan Jukung.

Suasana sore hari.

Banyak jajanan!

Karena cottage tempat kami menginap terletak di kawasan ini jadi enak deh kalau mau cari jajanan he he. Sayangnya nih ya sebagian pedagang dan pengunjung seperti lupa kalau sampah itu harus dibuang di tempatnya. Jadi yah ada bekas bungkus makanan yang berceceran di pantai.

Baca: Jalan-Jalan ke Pantai Sari Ringgung, Lampung.

Tersapu ombaaaak!

Sayang banget yah. Mungkin faktor banyaknya pengunjung saat liburan tapi please deh orang-orang sudah pada praktek zero waste kok kita mau buang sampah ke tong sampah aja kok susah banget. 

Meski begitu saya suka setiap pantai yang kami datangi. Di pantai di belakang Villa Monalisa Stabas saya sempat memotret sunrise yang cantik banget sementara di Labuhan Jukung saya bisa memotret sunset. Anak-anak juga seneng bisa main pasir dan main air meski cuma di tepian. Sempat melihat beberapa peselancar juga. Keren banget.

Oleh-oleh Khas Pesisir Barat Lampung


Kata teman saya nih ada beberapa oleh-oleh khas Pesisir Barat Lampung seperti bakso ikan tuhukxs, kacang tujin, kue tat, dan gurita. Hah, gurita?? Seriously ha ha. Tapi karena mikirnya kapan-kapan pengen ke sini lagi jadi kami cuma beli oleh-oleh bakso ikan tuhuk aja. Pas banget tempat belinya nggak jauh dari pintu masuk ke Labuhan Jukung yaitu Bakso Ikan 2 Samudra.

Baca: Tips Membeli Oleh-Oleh Saat Traveling.

Cuma sempat foto bakso yang tersisa ha ha.

Harga bakso ikan tuhuk adalah Rp 100.000 per kilo tapi kita bisa minta dikemas per 500 gram dan tiap kemasan sudah ada bumbunya. Jadi kita tinggal merebusnya dan menambahkan bumbu dan bahan lain misalnya mie, bawang goreng, daun bawang, dan sambal.

Tapi bakso dan kuahnya saja sudah enak banget. Saran saya sih nggak perlu masukkan semua bumbunya supaya kuahnya nggak terlalu asin.  Kalau yang di bawah ini foto bakso ikan tusuk yang saya beli di Labuhan Jukung. Oh iya, ngomong-ngomong soal ada juga nih rekan blogger saya yang menulis tentang oleh-oleh tapi daerah Tuban. Yang mau berkunjung ke sana bisa mampir cari referensi ke tulisan Oleh-Oleh Khas Tuban Apa Saja Ya? by Mbak Nur Rochma.

Bakso ikan tusuk.

Perjalanan Pulang ke Bandar Lampung


Kami berangkat kira-kira jam 11, awalnya sempat ingin mampir dan berfoto di Pantai Tanjung Setia tapi akhirnya memutuskan untuk terus jalan. Soalnya nggak mau kemalaman di Bukit Barisan. Kami juga nggak berhenti di Masjid Imaduddin di Semaka tapi di masjid lain di daerah Wonosobo, Tanggamus.

Liburan singkat ke Krui, Pesisir Barat, Lampung

Jam tiga sore berhenti untuk makan siang yang kesorean di Kotaagung, saya lupa nama tempatnya tapi sop ayam kampungnya enak banget. Sholat maghrib di Wates dan kira-kira jam 8 malam sampai di Bandar Lampung alhamdulillah dengan sehat dan selamat. 

Sampai di Bandar Lampung.


No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29