Mencegah Penyimpangan Orientasi Seksual Same Sex Attraction (SSA) dengan Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Sejak Dini (Bunda Sayang Level 11 Day 4)


Fiuh akhirnya sampai juga di diskusi hari keempat. Ngebut nih ngetik hasil dikusinya. Tapi nggak kerasa deh karena asyik banget menyimak materi yang disampaikan teman-teman sekelas sayKa di Bunda Sayang. Banyak banget ilmu yang saya dapat. Mudah-mudahan apa yang dibagikan teman-teman saya dan saya share juga di blog ini bisa bermanfaat ya bagi orangtua lain. Materi diskusi hari keempat adalah Mencegah Penyimpangan Orientasi Seksual Same Sex Attraction (SSA) dengan Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Sejak Dini
.

Pengertian Orientasi Seksual


Orientasi seksual adalah ketertarikan secara emosional dan seksual terhadap jenis kelamin tertentu.


Perbedaan Orientasi Seksual


1. Heteroseksual

Yaitu orang yang tertarik secara emosi dan seksual terhadap lawan jenisnya.

2. Homoseksual

Yaitu orang yang tertarik secara emosi dan seksual terhadap sesama jenisnya. Gay adalah istilah untuk homoseksual laki-laki dan lesbian untuk homoseksual perempuan. Pada perkembangannya ada banyak istilah yag digunakan pada waktu dan budaya yang berbeda.

3. Biseksual

Yaitu orang yang tertarik secara emosi dan seksual terhadap lawan dan sesama jenisnya.

Pengertian Same Sex Attraction (SSA)


Menurut Sinyo Egie, founder Yayasan Peduli Sahabat yang bergerak dalam bidang konseling bagi pelaku homoseksual/penyuka sesama jenis.

SSA tidak sama dengan lesbian atau gay. SSA hanya terbatas pada orientasi seksual saja namun belum tentu melibatkan perilaku seksual (berhubunga dengan sesama jenis).


Sementara LGBT merupakan identitas sosial, semacam penerimaan diri, pencitraan, aktualisasi diri yang hadir sebagai lawan dari identitas heteroseksual. Jadi tidak tepat menyamakan SSA dengan LGBT.

Faktor Penyebab Terjadinya Penyimpangan Orientasi Seksual


1. Tidak ada pendidikan berbasis fitrah seksualitas untuk anak sejak dini.

2. Tercabutnya kedekatan anak dengan sosok kedua orangtua.

3. Pemaksaan dalam mengambil role model. Misal seorang anak laki-laki mengambil peran dari ibunya. Pemaksaan ini bisa disebabkan oleh beberapa hal seperti broken home, ketidakharmonisan keluarga, dominasi ibu, dominasi ayah, KDRT, dsb.

4. Salah mengambil role model secara sukarela. Anak yang tumbuh dalam keluarga yang secara hubungan keluarga harmonis namun dibiarkan memilih model tanpa diberi contoh atau pemberitahuan.

5. Pendidikan agama yang dipercayakan pada orang lain.

6. Kurangnya peran ayah dalam pendidikan anak.

7. Interaksi anak yang tidak seimbang dengan orangtua, misalnya anak laki-laki terlalu banyak interaksi dengan ibu dan anak perempuan kurang kasih sayang ayah.

8. Over protective, terlalu dimanja/dilindungi.

9. Terpapar pornografi sesama jenis.

10. Traumatis masa lalu seperti pernah jadi obyek perilaku penyimpangan seksual.


Bahaya Perilaku Penyimpangan Seksual


1. Menjerumuskan pelakunya pada dosa.

2. Munculnya masalah kesehatan: kanker anal, kanker mulut, meningitis, HIV.

3. Merusak tatanan kehidupan sosial.

4. Menghancurkan kehidupan rumah tangga.

5. Muncul masalah gangguan kejiwaan akibat rasa bersalah yang tak dapat dihindari.


Deteksi Dini Penyimpangan Orientasi Seksual


1. 0-5 Tahun (Balita)

1. Indikasi fisik berlawanan dengan jenis kelaminnya.
2. Pilihan karakter berkebalikan dengan jenis kelaminnya. Misalnya anak laki-laki suka Barbie, berdandan, animasi dengan tokoh perempuan.
3. Lebih senang bermain dengan lawan jenis dibanding sesama jenis.

2. 6-10 Tahun (Penguatan)

Penguatan terhadap pembelokan orientasi seksual pada usia dini ini bisa juga dialami melalui pembentukan karakter anak, adanya bullying terkait identitas anak (deteksi dari pilihan kesukaan misalnya film favorit, karakter, dan style).

3. 11-14 Tahun (Kebingungan dan Penguatan)

Pada usia ini anak juga mulai mencoba mengatasi kebingungan yang dihadapi terhadap apa yang ia rasakan dalam jiwanya. 

Ia mulai mengalihkannya lewat kegiatan yang selama ini jauh dari karakternya dan selama ini tidak dilakukan.

4. > 15 Tahun (Pengkristalan)

1. Anak mulai melakukan self hypnonsis.

2. Pembelokan makin jauh menguat.

3. Keingintahuan terhadap perbedaan dalam dirinya makin besar.

4. Mulai mencaritahu lewat bacaan (media, buku, game, dsb). 

5. Mulai mencari-cari kelompok yang bisa memahami mereka.

6. Mulai bergabung dengan kelompok LGBT tak jarang pula lebih suka menyendiri.

Langkah Preventif Agar Anak Terhindar dari Penyimpangan Orientasi Seksual 


1. Menegaskan identitas seksual anak dan membiasakannya berperilaku sesuai identitasnya.

2. Pisahkan tempat tidur anak agar mereka mandiri memahami gender. Sebaiknya mulai diperintahkan sholat dan tidur terpisah ketika berusia 7 hingga 10 tahun.

3. Melindungi anak dan menjauhkan anak dari berbagai stimulus menyimpang. Dampingi perkembangan anak agar kita dapat mengetahui kira-kira hal apa saja yang mereka lihat dan dengar sehari-hari di lingkungannya.

4. Perkat basis pondasi agama anak dan ceritakan kisah tuntunan seperti kisah Nabi Luth.

Langkah Bila Anak Terindikasi Mengalami Penyimpangan Orientasi Seksual


Pada Anak Usia Dini

1. Cari tahu faktor penyebabkan secara detil. Apakah faktor biologis, kesalahan informasi dan persepsi anak, pergaulan, ataukah faktor lainnya. 

2. Diskusi dengan psikolog tanpa melibatkan anak.

3. Anak dipersiapkan untuk diajak bersama ke psikolog.

Pada Anak Usia Remaja

1. Pastikan terlebih dulu bagaimana orientasi seksualinya. Karena orientasi seksual sulit diketahi kecuali dari pengakuan jujur yang bersangkutan.

2. Jika memang memiliki kecenderungan SSA, perlu diketahui apakah telah sampai ke tahap perilaku seksual menyimpang atau tidak.

Hampir semua SSA/homoseksual sudah menyadari bahkan sejak usia 10 tahun hingga remaja. Beberapa kasus bahkan di bawah 10 tahun.

3. Jika sudah dalam tahap berlebihan, maka dapat diajak berdiskusi.

4. Eksplorasi dengan membenturkan remaja berikut dengan pertanyaan:

- Apakah ia nyaman dengan gaya/tingkah lakunya?
- Apakah ia akan melakukannya terus menerus?
- Apakah ia baik-baik saja dengan cita-cita yang sedang ditujunya?

Tanya Jawab


#1 Q: Bagaimana mengenali seseorang yang SSA?


A: Secara kasat mata sepintas terlihat seperti orang dengan orientasi normal. Umumnya SSA memiliki ketertarikan yang berlawanan dengan jenis kelaminnya, misal laki-laki suka fashion dan berdandan, dan umumnya suka show off dan cenderun feminim.

#2 Q: Bagaimana jika di lingkungan bermain kebanyakan anak perempuan sementara anak saya laki-laki?


A: Bisa dengan mendampingi bermain atau setelah bermain ditanyakan habis bermain apa saja. Sebenarnya anak laki-laki bukan tidak boleh bermain boneka hanya saja asal perannya sesuai fitrahnya. Misalnya main boneka tapi anak berperan sebagai ayah atau kakak laki-laki. Tapi tetap diperhatikan dan diawasi apakah anak jadi ada kecenderungan meniru teman-temannya yang perempuan (plus tambahan dari saya, mungkin sebagai penyeimbang bisa mengajak anak-anak laki-laki dari teman-teman orangtuanya untuk playdate).

#3 Q: Bagaimana dengan anak yang kondisinya kurang kasih sayang dan perhatian ayah?


A: Bisa diwakili figur lain seperti paman, kakek, dsb.

#4 Q: Jika mencurigai seseorang sebagai SSA, bagaimana cara memberitahu keluarganya?


A: Umumnya SSA takut identitas penyimpangan seksualnya diketahui orang terdekat, tidak sedikit yang terus menjaga rahasia sampai mereka mengambil langkah terapi. Jadi sebaiknya ajak ybs diskusi dulu sebelum memberitahu orangtuanya. Jika masih bisa terbuka bisa ditawarkan terapi.

#5 Q: Adakah lembaga atau yayasan yang bisa mendampingi SSA untuk terapi?


A: Cek FB Peduli Sahabat yang didirikan oleh Kak Sinyo Egie.


Baca juga diskusi lainnya seputar fitrah seksualitas di postingan ini:













2 comments on "Mencegah Penyimpangan Orientasi Seksual Same Sex Attraction (SSA) dengan Menumbuhkan Fitrah Seksualitas Sejak Dini (Bunda Sayang Level 11 Day 4)"
  1. Nah disinilah peran orang tua sangatlah penting ya mba, baca ini lalu teringat dengan maraknya public figure yang tak hanya penyimpangan orientasi seksualnya juga sampe terang2an untuk merubah bentuk tubuuhnya miris rasanya dan ini bener2 jadi pemacu buatku untuk bisa mendidik anak2 dengan baik agar hal2 penyimpangan begini jangan sampe terjadi *naudzubillah

    ReplyDelete
  2. berarti dari kecil uda bisa mulai keliatan ya mba? wah ortu harus lebih waspada ini ya

    ReplyDelete

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9