Sunday, June 7, 2015

Yang Akan Dirindukan Dari Sulawesi Utara

Yang Akan Dirindukan Dari Sulawesi Utara.

Belum ada seminggu yang lalu saya iseng mengecek kalender kalau-kalau ada long weekend yang bisa dimanfaatkan untuk ngebolang ke bersama Rayyaan dan Papanya. Ntah ke daerah lain di Sulawesi Utara, atau ke Provinsi lain di Sulawesi. Tapi rencana tinggal rencana, 6 jam kemudian saya mendengar kabar kalau suami saya in syaa Allah akan dipindahtugaskan, kembali ke kampung halaman he he.



Jadi rencana semula akan kembali ke Manado sehabis Idul Fitri juga rencana ngebolangnya sementara ditunda dulu. Kemungkinan sih suami saya saat mudik Lebaran ya sekaligus say good bye dengan Sulawesi Utara. Tapi hopefully suatu saat nanti bisa main-main lagi ke Sulawesi. Mendengar kabar suami bakal pulang kampung so pasti senang. Tapi nggak bisa dipungkiri, ada hal-hal yang akan saya rindukan juga dari Sulawesi Utara, terutama Manado.

Lingkungan Rumah yang Aman.

Di Manado saya tinggal di belakang kantor Disnaker di Kelurahan Banjer, Kecamatan Tikala. Alhamdulillah selama tinggal di sana, saya merasakan lingkungan yang aman. Jadi tidak perlu was-was saat ditinggal dinas luar lama. Rumah kosong saat ditinggal mudikpun in syaa Allah aman. Demikian juga kalau lupa memasukkan motor ke dalam rumah (rumah saya tidak berpagar), Alhamdulillah aman-aman saja, tidak ada pencurian kendaraan bermotor.

Saat iseng mengambil foto tali jemuran sehabis hujan,
duduk-duduk di teras dengan Rayyaan,
menyulap bagian tengah rumah jadi tempat mainnya Rayyaan,
dan saat Rayyaan berulang tahun yang ke dua.

Pepohonan di Kiri Kanan Jalan.

Apa jadinya sebuah kota besar tanpa penghijauan? Pastinya panas sekali. Tapi beruntunglah di Manado banyak pohon di tepi jalan sehingga terkesan teduh, sesuatu yang saya rindukan dari beberapa jalanan utama di kota Bandar Lampung beberapa tahun terakhir, ehm he he. 

Salah satu ruas jalan di Manado.
Credit Pic: Antara Sulut.

Kuliner di Tepi Laut.

Sebagian besar pusat perbelanjaan di Manado terletak di tepi laut. Beberapa tempat makan yang berada di gedung-gedung pusat perbelanjaan tersebut menyuguhkan pemandangan tepi laut yang indah. Di belakang pusat perbelanjaan terutama di kawasan Mega Mas, Manado juga ada deretan tempat makan yang posisinya pas di tepi laut. Banyak tempat makan yang menawarkan menu ikan bakar. Ada juga yang menjual bakso, masakan khas Makassar, masakan khas Minahasa, dan lain-lain. Untuk yang Muslim tentu saja pilih yang halal. Kalau angin sedang agak kencang dan ombak sedang besar, pengunjung di tempat makan bisa sedikit kecipratan ombaknya he he. Di malam hari kita bisa melihat kelap-kelip lampu di sepanjang Teluk Manado.

Baca: Jalan-Jalan ke Bumi Wisata Kedaton, Bandar Lampung.

Makan di Cabe Merah, Manado.

Kawasan Mega Mas di malam hari.
Credit Pic: suhandrilariwu.wordpress.com


Sambal Dabu-Dabu.

Suka makan sambal tapi nggak hobi ngulek? Sambal ini bisa deh dicoba, soalnya nggak perlu ngulek-ngulek untuk membuatnya he he. Bahan-bahannya antara lain cabai, tomat, bawang merah, sedikit garam, dan minyak (biasanya minyaknya saya panaskan dulu sebentar). Cabai, tomat, dan bawang merah diiris/dipotong, lalu diberi sedikit garam dan minyak goreng, dan diaduk-aduk, tak lupa diberi perasan air jeruk. Sudah lama saya tidak makan sambal ini. Kalau tidak lupa maunya sih nitip ke suami untuk dibawakan cabai keringnya supaya bisa ditanam di sini hi hi. Soalnya menurut saya cabai yang biasa digunakan untuk membuat sambal dabu-dabu di sana agak berbeda sih dengan cabai rawit di sini.

Saya lupa nih masak ikan apa he he.
Yang pasti sambalnya pakai sambal dabu-dabu.

Hotel Sedona.

Kenapa bakal kangen sama hotel ini? Sebenarnya karena kantor Papanya Rayyaan pernah mengadakan family gathering di sini dan Rayyaan bisa ketemu dengan teman-teman yang sebaya. Terutama pas nyemplung di kolam renangnya ramai-ramai he he. Salah satunya dengan Kakak Arka. Ternyata Kak Arka juga bakal pulang ke kampung halamannya, tapi di Banjarmasin. Semoga suatu hari nanti bisa ketemu lagi ya dengan Rayyaan.

Ternyata Kakak Arka juga bakalan pulang kampung,
tapi ke Banjarmasin.

Klappertaart.

Meski di daerah lain juga ada yang menjual klappertaart, tapi tetap ya yang asli made in Manado bakal bikin kangen. Soalnya makanan yang satu ini memang jadi salah satu oleh-oleh khas Manado. Biasanya saya hanya beli yang cup kecil, karena suami saya kurang suka produk olahan yang mengandung susu he he. Satu cup kecil harganya antara Rp 10.000 - Rp 20.000. Yang lebih mahal memang rasanya lebih enak hi hi. Meski sudah dibuat dengan bermacam-macam rasa, biasanya saya memilih yang rasanya original atau yang rasa keju, dan tentunya yang tanpa ditambahkan rum.

Klappertaart asli Manado.

Baca: Minggu Pagi di Pusat Kota Bandar Lampung.

Es Pisang Ijo.

Lho kalau yang ini kan dari Makassar? Iya sih, tapi di Manado juga ada yang jual dan saya suka. Trus jadi coba-coba buat sendiri. Kebetulan ada sirup pisang Ambon yang made in Manado (nyari yang asli Makassar kok belum nemu). Sayang warung yang jual Es Pisang Ijo di dekat rumah (di Bandar Lampung) pakainya sirup cocopandan hu hu. Es Pisang Ijo yang pernah saya beli dijual di salah satu warung bakso yang ramai pembeli. Tapi kalau esnya di makan di tempat, porsinya bagi saya dan suami bisa untuk semangkuk berdua hi hi. Soalnya nggak kuat kalau harus menghabiskan seporsi bakso sekaligus dengan seporsi es ini.

Es Pisang Ijo made in Clumsylicious Kitchen cabang Manado, he he.

Wah niatnya hanya menulis tentang 5 hal, ternyata sudah lebih ya he he. Selain itu saya juga bakal kangen dengan orang-orangnya yang ramah, bentor full music, juga dengan angkotnya he he. Alhamdulillah selama naik angkot di Manado, belum pernah ketemu dengan supir yang tidak sopan atau ugal-ugalan. Dan biasanya ntah itu pengendara motor/mobil pribadi atau supir taksi/angkot, mau berhenti sebentar kalau ada penyebrang jalan. Apalagi kalau yang ingin menyeberang adalah ibu-ibu rempong plus anak balitanya he he.  See you next time, North Sulawesi!


12 comments:

  1. AKu nyesel deh maak, pas tinggal ke Makassar dulu kenapa ga pernah ke manado yak, kan udah deket tuh daripada ke Manadonya dari Semarang. berapa duit cobaak T.T

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku sebaliknya Mak. Nyesel nggak main ke Makassar, cuma numpang transit doang hihi. Kalau pergi dari Lampung ya nggak irit banget.

      Delete
  2. asuh rasanyaingin ke sana. Bila kita sudah merasa nyaman , rasanya akan terasa sedih meninggalkan banyak kenangan di suatu tempat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Meski home sweet home, tapi nggak mungkin nyicip tinggal di suatu daerah tanpa punya kesan terhadap daerah tersebut ya Mbak :)

      Delete
  3. Banyak hal ya mak yg membuat kangen sm suatu tmpat khususnya di manado ini..
    Sambal dabu2nya bikin ngeces..
    Hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tinggal di suatu tempat pasti ada suka dukanya. Tapi mau mengenang yang suka suka aja he he. Silakan dicoba Mak sambalnya.

      Delete
  4. belum pernah ke sulawesi, paling jauh ya ke kalimantan, tapi penasaran pisang ijonya kalau makan langsung di sulawesi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dikit lagi nyampe tuh Mbak, 1 jaman aja he he

      Delete
  5. Yaa..... sayang nda oernah ikut kopdar dengan rekan2 Kawanua Blogger somo pindah... Btw semoga sukses di tempat tinggal yg baru mba sekeluarga... Salam dri rekan2 Kawanua Blogger

    ReplyDelete
  6. pengen ke Manado, belum kesampean, saya di Sulawesi Tenggara^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya belum kesampaian ke Sulawesi Tenggara hehe

      Delete

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29