Tips Memotret Produk Makanan


Alhamdulillah, Kelas Bunda Cekatan Institut Ibu Profesional sudah sampai di minggu ke enam tahap Ulat. Seperti biasa, tiap minggu ada tugas alias PRnya. Kalau kemarin tugas kami adalah berkenalan dengan anggota kelas yang lain dan menanyakan apa sih keluarga favorit mereka, kali ini tugasnya juga masih berhubungan dengan sebelumnya. Kami diminta membawakan makanan yang sesuai dengan tema atau keluarga favorit teman-teman. 



Wah deg-degan juga nih. Soalnya buat saya teman-teman sudah jauh lebih banyak ilmunya di bidang tersebut, jadi kasih makanan apa yaaaa. Sebagian teman sudah dapat kiriman dari saya, yaitu berupa printable beberapa hadits untuk anak-anak. Nah untuk teman lain yang berminat di bidang fotografi khususnya foto produk, saya buatkan makanan ini ya he he.


Tips Memotret Produk Makanan


1. Tentukan Konsep Foto


Yang pertama saya lakukan adalah menentukan konsep foto produknya seperti apa. Mau foto yang simpel minimaliskah, ala cafe, atau foto nuansa tradisional. Semua itu tentu tergantung jenis makanan yang akan difoto. Misalnya saja kalau bolu kita bisa membuat konsep minum teh dengan camilan kue bolu.

Baca Juga: Basic Food Photography Workshop with Sefa Firdaus and Kompakers Lampung.

Bingung cari ide konsep foto? Kita bisa jalan-jalan di internet misalnya instagram atau pinterest. Bukan untuk contek habis-habisan sih ya, lebih untuk belanja ide saja. Misalnya saat jalan-jalan kita menemukan bahwa ternyata alat makan jadul alias vintage itu bagus untuk properti foto, alat makan dari bambu cocok untuk makanan tradisional, dsb. 

Selain itu kita juga bisa mempelajari jenis-jenis komposisi serta sudut pengambilan gambar yang cocok untuk produk yang akan kita foto. 

2. Menyiapkan Properti Pendukung


Setelah menentukan konsep, kita bisa membuat daftar properti foto yang akan kita gunakan. Misalnya kalau ingin membuat foto dengan konsep makan kue bolu sambil minum teh, ini beberapa properti yang bisa kita gunakan:

a. Piring untuk alas kue bolu.
b. Pisau.
c. Serbet.
d. Set poci dan cangkir teh.
e. Sendok teh.
f. Garpu kue.
g. Alas foto kayu.
f. Tripleks warna cokelat untuk background.

Baca Juga: 8 Properti Food Photography yang Bisa Bikin Foto Jadi Tambah Kece.



Belum punya properti khusus? Kita bisa memanfaatkan alat makan yang ada di rumah. Selain itu kita juga bisa membeli di toko online. Banyak kok yang harganya terjangkau. Untuk alas foto dan juga backgroundnya kita bisa membuat sendiri dari tripleks dan cat. Atau kita bisa membeli alas yang sifatnya waterproof supaya tidak mudah rusak.

3. Menentukan Spot Foto yang Sesuai (Lighting/Pencahayaan)


Dalam foto produk bagi saya yang paling krusial adalah pencahayaan. Karena itu penting untuk menentukan spot foto dengan cahaya alami yang memadai, misalnya:

a. Di teras rumah
b. Di samping pintu
c. Di samping jendela besar 

Bagaimana kalau tidak memungkinkan foto di teras atau di samping pintu? Atau jika ada jendela tapi cahaya alami tetap kurang memadai, apalagi kalau mendung. Itu artinya kita sudah butuh cahaya tambahan/buatan alias artificial light, Gaess.

Baca Juga: Cara Membuat Watermark Foto dengan Picsart.


Yang biasa saya gunakan adalah lampu soft box. Biasanya saya letakkan di sisi kiri meja, sementara di kanan meja ada jendela. Tak lupa gunakan juga reflektor di sisi kanan produk. Tujuannya adalah untuk memantulkan cahaya supaya sisi kanan tidak terlalu gelap. 

4. Meletakkan Produk dan Properti Sesuai Konsep 


Ingat konsep yang sudah kita buat tadi kan ya. Sebelum pemotretan, tentu saja kita atur dulu susunan produk dan propertinya. Meletakkannya juga tidak asal-asalan melainkan perlu dipikirkan juga komposisi yang enak dipandang mata. Kita bisa mempelajari beberapa komposisi dasar sebelum kemudian memodifikasinya. Mudah-mudahan next time saya bisa membuat tulisan khusus tentang komposisi dan juga angle.

Baca Juga: Mengedit Foto dengan Adobe Photoshop Lightroom CC di Handphone.


5. Menyesuaikan Pengaturan Kamera


Dulu saya sering bahkan hampir selalu menggunakan setelan otomatis pada kamera. Setelan otomatis memang praktis dan mudah digunakan tapiiii, belum tentu hasilnya sesuai dengan keinginan kita termasuk saat memotret produk. Memotret menggunakan kamera DSLR, mirrorless, atau kamera ponsel, ada baiknya kita belajar menyesuaikan pengaturan kamera/menyesuaikan exposurenya secara manual. Apa saja biasanya yang disesuaikan?

a. ISO 


"Kecepatan ISO adalah kemampuan sensor gambar dalam meraba cahaya, direfleksikan sebagai nilai numerik." - Canon Asia.

Berhubung produk yang difoto dalam posisi diam tak bergerak, biasanya saya mengusahakan ISO di kamera maksimal 400 supaya gambarnya tidak noise alias berbintik-bintik. Karena itulah ya saya butuh pencahayaan yang memadai. Karena kalau lighting kurang oke, biasanya terpaksa menaikkan ISOnya, yang akhirnya gambarnya jadi kurang 'halus'. Kalau cahayanya oke, saya biasanya menggunakan ISO 200 untuk foto produk.


b. Aperture/f stop


"Aperture memungkinkan kita mengontrol jumlah cahaya yang memasuki lensa. Apabila aperture dilebarkan, semakin banyak cahaya yang bisa masuk, dan sebaliknya, apabila aperture disempitkan, semakin kurang cahaya yang bisa masuk ke lensa. Nilai numeriknya disebut sebagai f number." - Canon Asia.

Mencoba memahami konsep pengaturan manual kamera kadang membingungkan ya he he, ini sih yang saya rasakan. Jadi cara tercepat untuk memahaminya adalah langsung praktik hi hi. Setelah aperture ini tidak hanya mempengaruhi jumlah cahaya yang masuk namun juga ukuran area yang tampak dalam fokus. Biasanya sih teman-teman saya yang minta difotokan produknya lebih suka kalau obyek utama terlihat jelas dan properti di bagian belakang terlihat blur. Karena itu biasanya saya menggunakan f stop di kisaran f/3.5 dan f/4.

Baca Juga: Cara Menambahkan Font Baru pada Aplikasi Picsart.


c. Shutter Speed/Kecepatan Rana


"Kecepatan rana (juga: waktu pencahayaan) adalah lama waktu ketika rana terbuka dan cahaya memasuki sensor gambar di dalam kamera. Kecepatan rana ditunjukkan sebagai 1 det., 1/2 det., 1/4 det. ... 1/125 det. hingga 1/250 det., dll." - Canon Asia.

Mana yang lebih cepat? 30 detik atau 1/30 detik? Tentu saja 1/30 detik ya.

Kalau 1/250 detik dibanding 1/100 detik? Yang lebih cepat tentu 1/250 detik.

Sekarang bayangkan rana kamera = jendela rumah. Kalau jendelanya dibuka selama 30 detik, tentu cahaya yang masuk akan lebih banyak dibanding 1/30 detik. 

Dalam memotret produk, berapa kecepatan rana/shutter speed yang sesuai? Semuanya tergantung kebutuhan. Biasanya saya gunakan kisaran 1/25 s.d 1/60.


6. Penggunaan Tripod


Satu hal lagi yang saya rekomendasikan dalam memotret produk yaitu menggunakan tripod. Tujuannya untuk meminimalisir terjadi gerakan tangan saat memotret yang membuat kamera jadi ikut bergoyang dan fotonya jadi tidak fokus. Apalagi kalau produk yang difoto banyak. Akan sangat makan waktu kalau kita bolak balik meletakkan kamera. Belum tentu juga sudutnya sama. Sebagai contoh seperti saat saya memotret produk tas (ya walau ini bukan produk makanan ya). Jumlah produknya ada puluhan dan akan melelahkan sekali jika tidak dibantu dengan tripod.

Baca Juga: 2 Cara Menambahkan Font pada Aplikasi Phonto.


Untuk lebih jelasnya tentang Tips Memotret Produk Makanan juga bisa ditonton di video ini ya.  Meski sebenarnya ini adalah video camilan untuk tugas di bulan Januari lalu, namun mudah-mudahan bermanfaat bagi teman-teman yang ingin mencoba memotret produk sendiri. Jika ada pertanyaan bisa mengontak saya lewat Instagram @henipuspita29 



Pustaka:


22 comments on "Tips Memotret Produk Makanan"
  1. Terima kasih tips2nya. Saya seneng motret makanan tapi so far masih pake hp dan ngandelin cahaya alami plus editan di hp

    ReplyDelete
  2. Wah kayaknya seru ya, aku juga suka belajar food photography dari youtube dan pinterest aja sih tapi

    ReplyDelete
  3. Pudingnya menggoda atulaaaah...MAuu nyomot.
    Selalu apgred, nambah ilmu lagi nih , buat memotret produk, makasih yaaa Maaak.

    ReplyDelete
  4. Masya Allah, mbak, hasil jepretannya keren sekali. Ilmu ini penting banget dipelajari bagi semua kalangan, nih, termasuk buat blogger. Biar tampilan artikelnya makin keren dengan foto pendukung yang super kece juga kayak gini.

    ReplyDelete
  5. Ilmu yang sangat bermanfaat bagi yg mempunyai blog ini, mba.
    Saya moto masih ngandelin kamera ponsel. Seringnya goyang dan hasilnya blur.

    ReplyDelete
  6. Seruuu banget!
    Aku juga mauuuk ikutan workshop kayak gini, karena super duper berfaedah ya Mbaaa
    Makasiii tipsnyaaa :)

    ReplyDelete
  7. Cakep ih foto produknya, sukses bikin ngiler. Pencahayaan ngaruh banget dengan hasil fotonya ya. Aku kalo mau motret produk juga suka kepoin foto mastah meski hasilnya tetep kurang memuaskan, wkwkkwkk

    ReplyDelete
  8. Kayaknya saya bisa bolak-balik baca artikel ini. Masih agak susah buat saya untuk foto makanan. Susah menatanya, suka blank ide. Harus banyak berlatih deh saya

    ReplyDelete
  9. Seru ya kak, saat kita bisa menghasilkan foto produk yang terlihat sedap. Bagus-bagus deh hasil fotonya😍

    ReplyDelete
  10. Hebaat mba Heni karya fotonya tuh zelalu keren. Aku tuh tipe nggak sabaran deh jadinya kadang ngerasa kurang maksimal. Makasih tipsnya ya

    ReplyDelete
  11. Wah saya juga ingin bisa motret produk makanan yang bisa sebagus itu. Harus sedia banyak propertinya dulu ya, Mbak. Supaya keliatan lebih menarik

    ReplyDelete
  12. Seruuu memang Kalau foto produk yaa mba.. propertinya bisa banyaama dan lucu - lucuu

    ReplyDelete
  13. Nuhun, kaka...
    Aku suka banget dapet informasi lengkap mengenai fotografi.
    Setidaknya kalau baca-baca begini kan...aku ada gambaran ya...
    Pro banget, kak~

    ReplyDelete
  14. wah, terimakasih banyak ilmunya..
    aku juga lagi belajar foto, tapi masih kurang maksimal hasilnya

    ReplyDelete
  15. Sip, bookmark nih tips memotret produk makanan ini. Aku masih sering bingung kalau mau motret dari angle mana. Yang sama sekali aku nggak bisa itu yang mode flatlay mba, pasti gagal. :(

    ReplyDelete
  16. Aku ngiler pengen belajar moto kece kaya gini. Kudu banyak persiapan ya biar hasilnya oke. PRnya karena jendela yang menghadap cahaya tuh tertutup dinding tetangga yang tinggi. Kudu nyari lokasi yang bagus

    ReplyDelete
  17. Sudah lama ga utak atik kamera buat motret. Kangen deh ikut kelas-kelas yang nambah ilmu. Makasih ya mba tipsnya, saya harus mulai semangat lagi nih

    ReplyDelete
  18. Terima kasih tipsnya ya, Mbak, sangat membantu banget ini buat foto produk, foto printilan jurnalku juga. Memang untuk menghasilkan foto yang bagus mesti tau trik dan ilmunya ya

    ReplyDelete
  19. Huhu, kudu diinget banget deh ini buat aku. Aku masih payah nih dalam hal konsep, properti, pencahayaan, dan lain-lainnya. Aku masih ngikut mood dan seenaknya aja deh. Huhuu... kudu belajar sama Mak Heni :D

    ReplyDelete
  20. Well noted mbak, selama ini aku lebih banyak motret produk dan orang, paling jarang motret makanan hehe.. dan ternyata untuk menghasilkan foto makanan yang bagus itu ada ilmunya juga ya.. tipsnya akan aku praktekin nanti mbak

    ReplyDelete
  21. Wah dibalik foto yang cakeps ternyata yang disiapin juga banyak ya :) Selama ini kalo foto makanan mikirnya yang penting kelihatan enak aja. Makasih tipsnya mba Heni

    ReplyDelete
  22. Terima kasih banyak ilmuny mba Heni. Aku selama ini suk bingung masalah pengaturan kamera. Setelah baca ini jd ada pencerahan. Dan ttg komposisi, aku tunggu banget mb ulasanny. Ntar colek aku ya😊

    ReplyDelete

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29

EMOTICON
Klik the button below to show emoticons and the its code
Hide Emoticon
Show Emoticon
:D
 
:)
 
:h
 
:a
 
:e
 
:f
 
:p
 
:v
 
:i
 
:j
 
:k
 
:(
 
:c
 
:n
 
:z
 
:g
 
:q
 
:r
 
:s
:t
 
:o
 
:x
 
:w
 
:m
 
:y
 
:b
 
:1
 
:2
 
:3
 
:4
 
:5
:6
 
:7
 
:8
 
:9