Monday, October 24, 2016

"Dok, ASI Saya Kok Tidak Keluar?" Bagian Kedua - Catatan Talkshow "Sukses Menghadapi Tantangan Menyusui" Oleh AIMI Cabang Lampung

"Dok, ASI Saya Kok Tidak Keluar?" Bagian Kedua - Catatan Talkshow "Sukses Menghadapi Tantangan Menyusui" Oleh AIMI Cabang Lampung
Credit pic: aimi-asi.org

Setelah pada postingan sebelumnya saya berbagi tentang inti materi yang disampaikan oleh para nara sumber talkshow "Sukses Menghadapi Tantangan Menyusui" yang diadakan dalam rangka HUT ke-1 Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI) Cabang Lampung.  Pada postingan ini saya ingin sharing tentang pertanyaan-pertanyaan yang diajukan para peserta pada nara sumber. Simak yuk pertanyaan dan jawabannya:

Foto-foto dulu sebelum acara dimulai.

Q1: Apakah usia ibu mempengaruhi produksi ASI? Saya dengar bahwa ibu menyusui yang berusia di atas 40 tahun produksi ASInya sedikit.

A1: Produksi ASI tidak ada hubungannya dengan usia. Kakak saya dulu melahirkan di usia 46 tahun dan sukses menyusui selama 2 tahun - dr. Asti.

Baca: Siap Tempur Sebelum Menyusui.

Q2: Saya ingin sekali menyusui anak saya secara eksklusif, tapi ASI saya tidak keluar.

A2: Ini adalah pertanyaan mendasar yang banyak ditanyakan ibu-ibu. Penyebab ibu gagal menyusui di hari-hari pertama kehidupan bayinya adalah anggapan ASInya belum atau tidak keluar. Karena itu penting bagi seorang ibu hamil untuk bertemu konselor laktasi atau konseling tentang menyusui dengan bidan pada kehamilan 28 dan 36 minggu. Jadi setelah ibu melahirkan ia tidak punya anggapan bahwa ASInya belum/tidak keluar. 

Percaya pada Allah dan barengi iman dengan ilmu. Begitu rahim berisi bayi, ukuran payudara akan bertambah besar. Di otak ibu ada hormon prolaktin yang membentuk ASI dan oksitosin yang menyemprotkan ASI. Di ari-ari ada hormon progesteron yang berperan membesarkan payudara. Selain itu progesteron juga menahan ASI supaya tidak keluar dulu selama kehamilan. Setelah ibu melahirkan dan ari-ari diangkat, hormon progesteron menurun dan hormon prolaktin dan oksitosin meningkat perlahan. Meningkatkan prolaktin dan oksitosin butuh waktu kurang lebih 72 jam. Artinya pada hari-hari pertama, produksi ASI memang belum banyak sehingga banyak ibu menganggap ASInya tidak keluar.

Ternyata di hari-hari awal kehidupannya, ukuran lambung bayi masih kecil sekali lho.

Cukupkah ASI di hari-hari pertama bayi? Insya Allah cukup. Kapasitas lambung bayi juga masih kecil sekali (lihat gambar). ASI yang keluar jumlahnya sesuai dengan kapasitas lambung dan kebutuhan bayi. Di hari-hari awal inilah ibu harus aware karena jika bayi justru diberikan cairan pengganti ASI (PASI) apalagi jika pakai dot dan bayi jarang menyusui langsung pada ibu, inilah yang menyebabkan produksi ASI justru menurun atau bayi tidak mau menyusui. Semua ibu insyaa Allah pasti keluar ASInya hanya mungkin masih lack of knowledge atau pengetahuannya masih kurang. Karena itu ibu serta ayah dan juga para nenek harus membekali diri dengan pengetahuan tentang ASI - dr. Asti.

Takut bayinya kuning? Cek berapa kadar bilirubinnya. Pada bayi Asia kencenderungan angka bilirubin memang lebih tinggi dibanding bayi ras di benua lain. Namun jika ditangani dengan tepat hal ini dapat ditangani. Lakukan konseling tentang menyusui sejak kehamilan, lakukan IMD, cek apakah ada penyebab lain yang menghambat proses menyusui seperti pelekatan dan posisi yang tidak tepat dan apakah di lidah bayi terdapat tongue tie. Selain itu bayi yang baru lahir biasanya beratnya memang turun dulu, jika tidak turun malah dikhawatirkan ada masalah fungsi ginjal dan jantung. Jadi ibu tidak perlu gampang cemas jika bayi terlihat kuning atau berat badannya turun - dr. Asti & Mbak Nia Umar.

Baca: 9 Perlengkapan Menyusui yang Wajib Dimiliki.

Eh siapa bilang menyusui itu hanya urusan ibu dan bayi saja.
Ayah juga berperan aktif lho dalam kesuksesan menyusui.
Ini nih salah seorang Ayah ASI yang datang ke talkshow kemarin.

Q3: Pertanyaan ini lebih ke berupa saran bagi AIMI Lampung agar lebih menjangkau posyandu dan puskesmas di daerah-daerah (seperti di Kabupaten) yang ibu-ibunya masih banyak mendapat saran untuk memberikan cairan pengganti ASI.

A3: AIMI Lampung juga aktif mensosialisasikan tentang ASI dan menyusui ke puskesmas-puskemas di Lampung. Pengurus AIMI semua adalah relawan karena AIMI merupakan organisasi nirlaba yang pengurusnya karena cinta dan passion mereka ingin berbagi informasi tentang menyusui. AIMI Lampung juga bisa diundang ke posyandu, pusksesmas, juga komunitas yang ada di Lampung - Mbak Nia Umar.

Baca: Working Mom Sukses ASI Eksklusif Meski Tanpa Kulkas atau Freezer untuk Menyimpan ASI.

Q4: Di puskesmas saya ada ibu-ibu yang melahirkan dan terkena hepatitis jadi ASInya diperah karena ibu tidak percaya diri dan takut putingnya lecet saat menyusui. Saat memberikan ASIP apakah lebih baik lewat pipet tetes atau lewat sendok? Kalau lewat sendok takut bayinya tersedak.

A4: Ibu dengan hepatitis B tetap boleh menyusui bayinya secara langsung yang penting bayi sudah divaksin dan diberi HBIG. Saat hamil ibu juga sebaiknya melakkan cek darah untuk mengetahui apakah ada penyakit seperti hepatitis B. Kalau ingin memberikan ASI perah bisa lewat sendok atau dengan media gelas, tidak perlu takut bayi akan tersedak - dr. Asti.

Q5: Anak kami saat baru lahir didiagnosis GDS (gula darah sementara) rendah oleh pihak RS, jadi kami disarankan memberi cairan pengganti ASI (PASI) untuk si bayi. Alasan dari pihak RS bayi dengan GDS rendah sementara ibu baru operasi SC dan produksi ASI belum banyak, jika tidak diberi PASI ke depannya anak bisa terkena diabetes. Benarkah?

A5: GDS jika dicek sebelum bayi berusia 48 jam pasti rendah, jadi daripada bayi masuk inkubator dan diberi PASI, lebih baik bayi diberi "inkubator hidup" yaitu ayah dan ibunya. Jadi resiko bayi diberi PASI dan harus berhari-hari diinkubator rendah - dr. Asti.

Anak ketiga saya lahir dengan operasi SC juga setelah 42 minggu menunggu dan akhirnya kondisi ari ketuban sudah tidak baik. Setelah lahir bayi saya tidak menangis dan skor tes Apgarnya rendah (metode Apgar adalah metode sederhana untuk secara cepat menilai kondisi kesehatan bayi baru lahir sesaat setelah kelahiran). Saat bayi ditaruh di dada saya, kondisinya agak biru namun setelah 15 menit melakukan skin to skin, warna kulitnya jadi merah muda, kondisinya jadi lebih segar, dan skor tes Apgarnya meningkat. Saat nafas bayi kami cepat, oleh dokter kami disarankan untuk memasukkan si bayi ke NICU. Namun setelah mengontak dr. Asti kami diberi pilihan lain yaitu skin to skin lagi namun bergantian dengan ayahnya supaya saya tidak kelelahan. Kondisi bayi kami meningkat setelah skin to skin selama 24 jam - Mbak Nia Umar.

Saya sering menyarankan metode skin to skin dibanding memasukkan anak ke inkubator, terutama bagi pasien dari golongan ekonomi lemah, tentunya dengan sepersetujuan orangtuanya. Skin to skin jauh lebih hemat dibanding biaya anak harus berhari-hari diinkubator (bayangkan beratnya biaya bagi orangtua yang ekonominya lemah). Meski bagi GDSnya rendah, jika lingkungannya tepat (dirawat gabung, skin to skin dengan ibu), si bayi bisa menyusui langsung, jadi tidak perlu khawatir.

Baca: 12 Mitos VS Fakta Seputar ASI dan Menyusui yang Harus Ibu Ketahui.

Supaya anak pertamanya bisa tetap minum ASI,
Mbak Nur Annisa rela memerah ASI dan mengirimkannya setiap hari dari Lampung Utara ke Bandar Lampung!

Q6: Saya ingin menanyakan tentang jangka waktu penyimpanan ASIP. Saya dulu bekerja di Lampung Utara dan anak saya diasuh oleh ibu mertua di Bandar Lampung. Supaya anak pertama saya tetap mendapatkan ASI, ASI saya perah, saya simpan di kulkas ibu kos, dan setiap pagi saya kirim lewat bus dari Lampung Utara ke Bandar Lampung dengan menggunakan cooler bag dan ice gel. Saya juga menggunakan termos es kecil dan es batu. Lama perjalanan bus kurang lebih 3-4 jam. Kalau ASIP yang saya dinginkan dengan ice gel atau es batu lalu sesampainya di Bandar Lampung disimpan dalam freezer oleh ibu mertua saya, apakah aman saat diberikan pada bayi?

A6: ASI yang baru diperah jika dibiarkan di suhu ruang tahan 8-12 jam. Jika ibu harus eksklusif pumping, ASI tetap aman dengan ice gel - dr. Asti.

AIMI mendorong ibu untuk menyusui secara langsung, bukan sekedar memberikan ASI. Menyusui secar langsung lebih ideal karena itu harapan AIMI adalah ibu bekerja bisa mendapat cuti melahirkan lebih lama supaya bisa memberikan ASI eksklusif secara langsung. Semoga pemerintah lebih aware dengan hal ini misalnya seperti di Vietnam yang cuti melahirkannya sampai 7 bulan - Mbak Nia Umar.


Sebelum pulang, foto bareng dulu ah dengan salah satu nara sumber hari ini.

Wah luar biasa ya antusiasme peserta dalam bertanya kepada para nara sumber. Sayangnya karena keterbatasan waktu jadi sesi tanya jawab dibatasi untuk 6 orang penanya saja. Punya banyak pertanyaan seputar ASI dan menyusui? Boleh lho bertanya pada para konselor laktasi dari AIMI Cabang Lampung. Silakan cek akun media sosial AIMI Lampung di IG @aimilampung Twitter @AIMI_Lampung atau bergabung ke grup Facebooknya di AIMI Lampung

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29