Wednesday, August 26, 2015

Siap Tempur Sebelum Menyusui

Siap Tempur Sebelum Menyusui.
Credit pic: Freepik.
Menyusui tidak hanya memberi nutrisi pada fisik si kecil saja, tetapi juga dapat membangun ikatan yang kuat dengan si kecil. Kontak melalui belaian dan dekapan, senyuman, kehangatan, dan detak jantung si ibu membuat bayi merasa aman dan nyaman – dr. Tiwi.


Banyaknya manfaat ASI bagi bayi membuat makin banyak ibu yang memutuskan untuk memberikan ASI secara eksklusif selama 6 bulan lalu dilanjutkan hingga si kecil berusia 2 tahun. Tak jarang selama prosesnya, ada tantangan yang dihadapi oleh ibu menyusui, termasuk saya. Tantangan yang harus saya hadapi di masa menyusui adalah ASI sempat seret dan payudara bengkak sampai badan terasa panas dingin.

Proyek Sains: Warna di Balik Warna.

Alhamdulillah saya bisa menyusui Rayyaan selama 2 tahun lebih. Kini Rayyaan sudah disapih namun terkadang ada rasa rindu menyusui, terutama kalau melihat foto-fotonya saat masih bayi. Nah awal bulan Agustus kan sempat diramaikan dengan peringatan World Breastfeeding Week. Meski sudah lewat namun mumpung bulan Agustus saya juga ingin ikut berbagi tentang tips sukses menyusui ah. Persiapannya bisa dilakukan sejak hamil lho. Supaya setelah lahiran tidak kebingungan soal menyusui. Apa saja yang bisa dilakukan supaya ibu menyusui lebih siap tempur?

1. Mempersiapkan bekal ilmu seputar menyusui.

Investasi buku yang membahas tentang menyusui yuk!
Credit pic: Freepik.

Sebelum hamil saya tidak tahu blas soal ASI eksklusif. Untungnya saat hamil saya cukup rajin menonton acara tentang ibu dan anak di televisi. Suatu hari ada liputan tentang komunitas penggiat ASI. Mulai dari situlah saya hunting berbagai informasi tentang menyusui. Namun nggak afdol ya kalau tidak punya buku pegangan menyusui. Jadi saya membeli beberapa buku yang memuat bahasan soal menyusui.

Buku-buku ini ditulis oleh tenaga kesehatan seperti dokter anak juga orang-orang yang lebih berpengalaman tentang menyusui. Di dalamnya terdapat informasi seperti manfaat ASI, pertimbangan memilih rumah sakit, inisiasi menyusui dini (IMD), rawat gabung, menyusui sambil bekerja sampai ke tantangan dalam menyusui dan tips mengatasinya.

2. Mempersiapkan pendukung menyusui.

Ayah juga harus berperan aktif lho dalam mengurus bayi.
Credit pic: Freepik.

Nggak hanya tim sepakbola aja yang butuh supporter he he, ibu menyusuipun butuh supporter lho! Siapa saja sih pendukungnya? Pendukung terbesar ibu menyusui adalah suami alias ayah si bayi. Lupakan saja deh pendapat lama kalau menyusui itu hanya urusannya ibu dan anak. Kini makin banyak ayah berperan aktif dalam mendukung isterinya menyusui. Keren!

Yang bisa ayah lakukan adalah sama-sama belajar ilmu seputar menyusui dan siap mengambil alih tugas merawat bayi seperti mengganti popok di malam hari dan mencuci baju bayi. Pastikan juga ibu menyusui cukup istirahat dan bebas stress supaya ASI tetap lancar. Lagipula, ASI lebih ramah di kantong ayah kan? He he.

Pendukung lainnya adalah keluarga terdekat terutama nenek alias eyang. Biasanya ibu muda seperti saya (uhuk uhuk) masih perlu bimbingan dalam merawat bayi. Namun tak jarang timbul perbedaan pendapat antara ibu dan eyang termasuk soal menyusui. Awalnya ibu sayapun sempat heran “Jadi selama 6 bulan cuma nenen aja?” Nah di sinilah peran lain ayah juga manfaat punya buku tentang menyusui. Ayah dan ibu dengan berbekal buku tadi bisa memberikan pemahaman pada eyang kalau ASI bisa memenuhi kebutuhan bayi hingga usia 6 bulan tanpa perlu minuman atau makanan tambahan lain. 

Lalu ada pendukung lain yang juga punya peranan penting, yaitu tenaga medis mulai dari dokter kandungan, dokter anak, sampai tenaga medis lain di rumah sakit. Kenapa kok penting? Ya iyalah, mereka kan berperan besar dalam kelahiran dan hari-hari pertama bayi. Carilah dokter kandungan, dokter anak, rumah sakit plus stafnya yang pro ASI. Jadi insyaa Allah akan lebih mudah untuk melakukan IMD dan rawat gabung. Tenaga medisnya pun akan membantu ibu dalam proses belajar menyusui (bahkan sampai belajar memerah ASI juga lho).

Breastfriends yang saling menyemangati.
Credit pic: Rattles & Mascara dan Freepik.

Selanjutnya jangan lupakan pendukung yang paling mengerti isi hati ibu menyusui. Siapa lagi kalau bukan sesama ibu menyusui? Alhamdulillah saya punya beberapa teman ‘seangkatan’ saat menyusui. Jadi selain bisa saling tukar informasi juga saling menyemangati Oh iya, komunitas ibu menyusui juga banyak lho tersebar di kota-kota di Indonesia. Tak jarang komunitas ini mengadakan kegiatan seperti kelas edukASI. Ada juga anggotanya yang merupakan konselor laktasi. Jadi saat merasa galau menyusui dan khawatir ASI seret, jangan segan untuk curcol ke breastfriend yang bisa memotivasi dengan cara positif ya.

3. Mempersiapkan perlengkapan menyusui.


Salah satu perlengkapan menyusui.
Credit pic: Blogs Trb & Freepik.

Menyusui sejatinya kan praktis ya. Jadi sebenarnya tidak terlalu banyak perlengkapan yang harus disiapkan. Cukup yang penting-penting saya misalnya bra menyusui. Kini banyak bra menyusui yang berkualitas dengan corak beragam. Misalnya seperti koleksi bra menyusui di Zalora (baca Disclaimer). Bra menyusui yang berkualitas selain nyaman digunakan juga mudah dibuka dengan cepat bagian depannya saat kita harus menyusui.

Selain itu ibu menyusui juga butuh tambahan baju dengan bukaan depan supaya lebih mudah saat menyusui. Ada baiknya juga siapkan apron atau nursing cover untuk menyusui di tempat umum. Siapa tau nih saat pergi-pergi kita tidak menemukan nursing room. Perlengkapan tempur lain yang bisa dipertimbangkan adalah pompa ASI dan botol untuk menyimpan ASI perah. Terutama untuk ibu menyusui yang bekerja.

Happy breastfeeding!
Credit pic: Walltor dan Freepik.
  
Persiapan yang baik adalah awal keberhasilan, termasuk dalam hal menyusui. Namun jangan lupa bahwa bayi yang baru lahir juga sedang belajar menyusu. Yuk nikmati proses persiapan menyusui dan momen menyusui itu sendiri. Usahakan tetap tenang saat menghadapi kendala menyusui. Bersemangatlah dan jangan segan untuk mencari dukungan dan bantuan apapun yang diperlukan demi keberhasilan menyusui dan kesehatan si buah hati. 

Sumber:

Buku Anak Sehat: 100 Solusi dr. Tiwi oleh dr. I Gusti Ayu Nyoman Partiwi.

15 comments:

  1. semoga saya pun bisa sampe 2 tahun. 2 anak sebelumnya hanya bisa sampe 8 bulan doang...

    ReplyDelete
  2. suksesnya menyusui memang harus mendapat dukungan orang-orang sekitar, dari suami dan keluarga terutama

    ReplyDelete
  3. kalau aku suka baca di Twitter, yang ga kalah penting itu moodnya Ibu ya supaya bahagia? dan buat itu perlu dukungan dari orang-orang di sekitarnya hihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya betul Mbak. Makanya suami itu berperan banget deh, jadi pendukung utama. Supaya isterinya happy terus dan ASInya lancar he he. Ga berarti harus kasi hadiah mahal sih, tapi bantu ngurusin anak, mijetin istri atau sekali-kali kasi kejutan kecil aja udah bikin isteri seneng ^_^

      Delete
  4. Buat saya bra menyusui penting Mbak. Apalagi yang sering ngajak anak jalan kemana-mana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa, kalau pakai bra biasa repot euy he he

      Delete
  5. persiapannya mantaaap..dan saya setuju, kalau kita siap, semua akan lebih mudah nantinya :)

    ReplyDelete
  6. Tipsnya lengkap nih biar bumil siap untuk menyusui setelah babynya lahir

    ReplyDelete
  7. Ih, aku beruntung banget yak berarti. Anak pertama, Naia, bisa nyusu Alhamdulillah sampai 2 tahun tapi Alhamdulillah tanpa drama yang berarti, huehue.

    ReplyDelete

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29