Heni Puspita

Blogger Mom | Photography Enthusiast | Home Education Facilitator

Cegah dan Atasi Anemia dengan Memenuhi Kebutuhan Nutrisi


Bagi seorang ibu, salah satu momen tak terlupakan dalam hidup adalah saat melahirkan buah hatinya. Rasanya tegang, terharu, sekaligus bahagia akhirnya bisa bertemu dengan si kecil yang selama sembilan bulan ada di dalam rahim. Saat melahirkan Rayyaan, meski harus melalui operasi caesar tapi alhamdulillah selama prosesnya saya merasa tenang. Selain berdoa dalam hati saya juga menerapkan teknik pernafasan yang diajarkan saat senam hamil. 

Saat melahirkan Razqa, saya justru merasa lebih tegang. Kenapa? Pertama karena pagi harinya mendadak ketuban saya sudah rembes duluan. Akhirnya harus merelakan tidak bisa mencoba metode VBAC atau vaginal birth after caesar. Selain itu, hasil tes darah saya menunjukkan bahwa kadar Hb atau hemoglobin dalam darah saya di bawah normal, duh...

Memang angkanya hanya sedikit di bawah normal. Namun dokter tetap mengambil langkah antisipasi. Keluarga diminta menyediakan dua kantong darah. Alhamdulillah proses operasi berjalan lancar dan Razqa lahir dengan sehat dan selamat. Namun tangan saya sedikit tremor alias gemetaran. Ini tidak saya alami saat melahirkan yang pertama kali. Setelah operasi sayapun harus menjalani transfusi darah. Namun dari dua kantong darah, cukup satu kantong saja yang dibutuhkan syukurlah. 

Kok bisa sih kadar hemoglobinnya tidak normal? Kondisi ini umumnya terjadi karena tubuh kekurangan zat besi dan tidak bisa menghasilkan hemoglobin. Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah kita. Fungsinya adalah untuk membawa oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh. Kadar hemoglobin tidak normal inilah yang disebut sebagai anemia defisiensi zat besi. 

Memang apa dampaknya kalau ibu hamil terkena anemia? Salah satu bahayanya adalah bisa menyebabkan pendarahan saat persalinan. Karena itulah dokter meminta suami saya menyediakan dua kantong darah untuk berjaga-jaga. Tapi pendarahan ini hanya salah satu bahayanya lho. Selain itu bukan cuma ibu hamil saja yang rentan terkena anemia. 

Wah, saya tidak mau dong kalau sampai ada anggota keluarga apalagi anak sendiri yang mengalami anemia. Dari kanal Youtube Nutrisi Bangsa khususnya video Webinar Peran Nutrisi dalam Tantangan Lintas Generasi, saya jadi tahu lebih banyak nih mengenai anemia. Seperti siapa saja yang rentan mengalami, apa penyebab serta dampaknya, serta bagaimana mengatasinya. Salah satu pembicara dalam webinar ini adalah Dr. dr. Diana Sunardi, MGizi, SpGK, Dokter Spesialis Gizi Klinik dan wakil dari Indonesia Nutrition Association.




Prevalensi Anemia di Indonesia

Berdasarkan data Riskesdas (Riset Kesehatan Dasar) tahun 2013, prevalensi anemia pada remaja putri di Indonesia sebesar 22,7%, ibu hamil sebesar 37,1%, balita laki-laki 29,7%, balita perempuan 26,7%, anak laki-laki 28%, dan anak perempuan sebesar 27,4%.

* Prevalensi adalah proporsi dari populasi yang memiliki karakteristik tertentu dalam jangka waktu tertentu. Dalam dunia kedokteran, karakteristik yang dimaksud meliputi penyakit atau faktor risiko.


Angka prevelansi anemia yang masih sangat tinggi ya. Karena itulah pada Hari Gizi Nasional ke-61 tahun 2021 ini pemerintah mengajak masyarakat untuk lebih sadar kesehatan dan gizi, khususnya penanggulangan anemia. 

Penyebab Tingginya Prevalensi Anemia

Sebenarnya apa sih penyebab tingginya prevalensi di Indonesia? Penyebab utamanya adalah malnutrisi karena konsumsi gizi yang tidak seimbang. Pasti tidak asing ya dengan kalimat “Orang Indonesia kalau nggak makan nasi nggak kenyang.” 

Padahal yang tepat ya bukan nasi atau karbohidratnya saja yang jumlahnya banyak. Tubuh juga perlu protein, lemak, serta berbagai vitamin dan mineral termasuk zat besi. Khususnya balita dan anak-anak yang sedang mengalami masa pertumbuhan. Sayangnya menurut data Riskesdas tahun 2018, hanya 2 dari 5 anak Indonesia yang konsumsi makanannya sesuai rekomendasi WHO.



Penyebab perempuan lebih rentan terkena anemia adalah karena setiap bulan mengalami haid atau menstruasi. Remaja putri yang mengalami haid kehilangan sekitar 1,3 mg zat besi setiap harinya. Pada ibu hamil, volume darah bertambah banyak untuk mengakomodasi perubahan tubuh serta pertumbuhan bayi.  Karena itu kebutuhan zat besi selama kehamilanpun ikut meningkat. 

Selain faktor demografik seperti usia dan jenis kelamin serta faktor gizi tidak seimbang, faktor fisik dan sosial juga turut mempengaruhi angka prevalensi anemia. Misalnya karena kondisi ekonomi, stress, mengonsumsi alkohol, serta menderita gangguan pencernaan. 

Gejala dan Dampak Anemia 

Gejala dan Dampak Anemia pada Anak dan Balita

Anak sering lesu, rewel, dan tidak nafsu makan? Sebagai ibu kita harus waspada nih. Apalagi jika anak mengeluh pusing, sering mengantuk, tidak konsentrasi, dan tidak aktif bergerak. Semua itu adalah gejala anak terkena anemia. Dampaknya adalah anak bisa mengalami gangguan pertumbuhan seperti berat badan dan tinggi badannya rendah (stunting). 

Gejala dan Dampak Anemia pada Orang Dewasa

Seperti apa gejala anemia pada orang dewasa? Gejalanya adalah kelopak mata pucat, kulit pucat, sering sakit kepala, tekanan darah rendah, nafas cepat atau sesak nafas, denyut nadi cepat, otot lemah, terjadi pembesaran limpa. Kita cek yuk apakah ciri-ciri ini ada pada diri kita. 

Baik anak, remaja, dan orang dewasa yang terkena anemia bisa mengalami dampak jangka panjang berikut ini: daya tahan tubuh menurun, tubuh jadi tidak fit, resiko terkena infeksi meningkat, prestasi dan kinerja menurun. 

Gejala dan Dampak Anemia pada Ibu Hamil

Punya keluarga yang sedang hamil? Perhatikan apakah mereka mengalami gejala seperti ini: wajah terutama kelopak mata dan bibir terlihat pucat, kurang nafsu makan, lesu dan lemah, cepat lelah, sering pusing dan mata berkunang-kunang.

Anemia bisa membahayakan kehamilan lho. Di atas tadi saya menuliskan bahwa ada resiko pendarahan bagi ibu hamil yang mengalami anemia. Ada lagi dampaknya yang tak kalah berbahaya, yaitu: pre eklamsia, gangguan pertumbuhan janin, bayi lahir prematur, infeksi, dan gangguan fungsi jantung. 

Cara Mencegah dan Mengatasi Anemia

Memenuhi Kebutuhan Nutrisi

Kunci utama mencegah dan mengatasi anemia adalah dengan memenuhi kebutuhan nutrisi, termasuk kebutuhan zat besi. 


Beberapa cara memenuhi kebutuhan nutrisi:

  1. Mengonsumsi makanan yang kaya zat besi terutama zat besi heme (sumber protein hewani) karena mudah diserap tubuh.
  2. Mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin C yang membantu penyerapan zat besi non heme (dari bahan pangan nabati).
  3. Menghindari konsumsi sumber fitat (seperti kacang-kacangan) dan tanin (kopi dan teh) yang berlebihan.
  4. Makan dengan pola gizi seimbang, sesuai pohon gizi seimbang atau isi piringku. 
  5. Memberikan jenis makanan yang bervariasi pada anak.
  6. Jika diperlukan, mengonsumsi suplemen zat besi atau makanan yang difortifikasi dengan zat besi seperti tepung, biskuit, dan susu pertumbuhan.





Bahan makanan hewani yang kaya akan zat besi misalnya daging ayam, daging sapi, daging domba, hati ayam, hati sapi, hati domba, dan ikan salmon. Sementara bahan makanan nabati sumber zat besi misalnya bayam, wortel, kangkung, tempe, tahu, brokoli, asparagus, daun singkong, kecipir, dan kacang buncis.

Untuk membantu penyerapan zat besi non heme (yang berasal dari sumber nabati), kita tidak boleh lupa mengonsumsi vitamin C. Sumber alami vitamin C misalnya papika merah, brokoli, jambu iji, cabai, kelengkeng, stroberi, blewah, mangga, tomat, dan jeruk. 

Ada banyak bahan makanan yang mengandung zat besi dan kita bisa memasukkan dan mengreasikan bahan-bahan tersebut ke dalam menu sehari-hari. Jadi bukan berarti setiap hari harus memasak sayur bayam terus setiap hari ya. 

Peran Berbagai Pihak untuk Mengatasi Anemia 

Ada upaya lain juga yang bisa dilakukan untuk mengatasi masalah anemia dan masalah gizi lainnya, dan ini butuh partisipasi berbagai pihak. Misalnya untuk upaya penanganan anemia pada remaja putri, perlu dukungan orang tua, dinas kesehatan, dinas pendidikan, sekolah, dan organisasi. 

Begitu pula upaya penanganan anemia untuk anak, balita, serta ibu hamil. Bisa dilakukan melalui berbagai program seperti pemberian suplemen, konseling menyusui, pemantauan pertumbuhan, dan pemberian makanan tambahan. 

Pemerintahpun menyatakan bahwa penanganan masalah kesehatan termasuk anemia ini harus dilakukan berkelanjutan untuk lintas usia. Mulai dari untuk ibu hamil. bayi dan balita, anak usia sekolah, remaja, hingga orang dewasa usia pekerja.


Komitmen Danone Indonesia untuk Membantu Mengatasi Permasalahan Gizi

Usaha untuk mengatasi permasalahan gizi di Indonesia butuh kontribusi banyak pihak. Karena itu Danone sebagai pionir industri makanan di Indonesia ingin mengajak seluruh Indonesia untuk berkontribusi dan berpartisipasi.  

Program unggulannya adalah Bersama Cegah Stunting yang mengintegrasikan berbagai program unggulan untuk mendukung intervensi nutrisi yang spesifik dalam mengurangi stunting di Indonesia. Seperti yang disampaikan oleh Bapak Arif Mujahidin, Corporate Communication Director Danone Indonesia, program ini didukung oleh mitra utama dari pemerintah dan organisasi terkemuka. 


Beberapa programnya seperti:

Isi Piringku

Mempromosikan konsumsi gizi seimbang dan gaya hidup sehat untuk anak usia 4-6 tahun melalui guru dan orang tua.

AMIR, Gerakan Ayo Minum Air

Mempromosikan kebiasaan minum7-8 gelas air per hari bagi anak sekolah.

Warung Anak Sehat

Memberdayakan ibu-ibu kantin untuk mengelola kantin sehat di sekolah dan menyediakan makanan dan minuman ringan yang sehat bagi siswa.

Aksi Cegah Stunting

Memperbaiki sistem rujukan bagi anak-anak gizi buruk dan menguatkan peran fasilitas kesehatan serta memprioritaskan intervensi gizi khusus bagi anak yang beresiko tinggi mengalami stunting.

GESID, Generasi Sehat Indonesia

Membangun pemahaman dan kesadaran remaja tentang kesehatan dan gizi remaja, termasuk pentingnya 1.000 hari pertama kehidupan dan pembentukan karakter.

Taman Pintar

Mendukung 4 fasilitas pendidikan yang berfokus pada kesehatan dan gizi di Taman Pintar, Yogyakarta.


Duta 1000 Pelangi

Memberikan bantuan pada karyawan dan masyarakat sekitar tentang masalah gizi dan kesehatan dalam 1000 hari pertama kehidupan dengan menjadikan karyawan sebagai duta.

Donasi Produk Nutrisi

Membantu memenuhi kebutuhan gizi masyarakat selama pandemi Covid-19. 


Berkat webinar ini jadi bertambah lagi deh pengetahuan saya. Cukup saya saja deh yang pernah mengalami harus transfusi darah karena anemia. Nah sekarang saya harus selalu memastikan kebutuhan nutrisi diri sendiri dan keluarga terpenuhi. 

Memang merupakan tantangan tersendiri mengupayakan anak-anak mau mencoba berbagai jenis makanan. Asyiknya nih students' club yang Rayyaan ikuti punya program kelas memasak daring. Seru sekali belajar tentang dunia memasak bersama anak-anak lain. Mulai dari mengenal peralatan memasak, aneka bumbu, membuat masakan kesukaan, mengenal jenis tepung, membuat smoothies sayuran hingga membuat nugget ayam. 

Mudah-mudahan dengan belajar memasak, anak-anak jadi lebih menyadari pentingnya mengonsumsi aneka jenis makanan untuk memenuhi kebutuhan nutrisinya. Tentu saja supaya daya tahan tubuh baik, sehat dan kuat menjalani aktivitas, dan bebas anemia.

Sumber:

Webinar “Peran Nutrisi dalam Tantangan Kesehatan Lintas Generasi” -https://www.youtube.com/watch?v=fuYipQ_bdn8&t=2932s

Podcast Nutrisi untuk Bangsa - https://open.spotify.com/episode/12JELuVQ7dnJDes8aaEMEx

Rohmanur Izzani - Hubungan Tingkat Pengetahuan dengan Perilaku Konsumsi Tablet Fe Saat Menstruasi pada Mahasiswa FKM UNAIR Surabaya

Nur Ia Kaimudin - Skrining dan Determinan Kejadian Anemia pada Remaja Putri SMA Negeri 3 Kendari

Sudikno - Faktor Risiko Anemia pada Ibu Menyusui di Rumah Tangga Miskin 

Comments

  1. aduh jangan sampai deh aku kena anemia..
    thanks for sharing n jadi reminder buatku

    ReplyDelete
  2. Anemia defisiensi besi bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak dan kondisi ini tidak boleh disepelekan begitu saja. Anemia bisa menyebabkan anak mengalami gejala merasa lelah, lemas, hingga sesak napas.

    Duh, edukasi semacam ini kudu nyampe ke semua ortu ya.
    Supaya generasi Indonesia sehaaattt dan merdeka dari anemia!

    ReplyDelete
  3. Gejalanya anemia pada anak-anak mduah dikenali secara langsung ya, Mbak kelopak mata pucat, kulit pucat, sering sakit kepala, tekanan darah rendah, nafas cepat atau sesak nafas, denyut nadi cepat.

    Saya sering ngecek di bawah kelomak mata anak-anak. Kalau terlihat pucat, saya minta anak-anak mengkonsumsi lebih banyak susu atau saya langsung mengolah sayuran berwarna hijau tua.

    ReplyDelete
  4. Aku anemia mbak, gampang lelah, lemas dan sering pusing kepalanya. Info menarik membahas anemia saya jadi belajar banyak di sini. Thanks sharingnya mbak.

    ReplyDelete
  5. Waktu hamil sempat ngerasain gejala anemia ini, mudah lelah dan pusing. Untungnya segera diketahui dokter jadi selama beberapa bulan sampe lahiran saya diresepi zat besi, memang terasa banget kalau sudah kena anemia gitu ya mba jangan sampe anak kena juga

    ReplyDelete
  6. Wah lengkap banget tentang anemia defisiensi zat besi mba, makasih yaa, saya juga nyimak materinya ternyata danone punya program yang bener-bener langsung turun ke masyarakat yaa, bagus banget program-programnya. Btw, seger liat gambar di awal mba, jadi pengen alpukat.. ^^v

    ReplyDelete
  7. memang kita tidak boleh sepelekan konsumsi dan asupan zat besi untuk kita ya mba. Banyak manfaatnya untuk kita dan banyak sumbernya juga yaaa

    ReplyDelete
  8. Seru bnget melibstkan anak2 dalam memasak pangan bergizi ya mba. Sekalian bisa edukasi ttg zat besi dan anemia ke anak2

    ReplyDelete
  9. Seru bnget melibstkan anak2 dalam memasak pangan bergizi ya mba. Sekalian bisa edukasi ttg zat besi dan anemia ke anak2

    ReplyDelete
  10. Masalah Kesehatan yang dihadapi Indonesia saat ini adalah Stuting, Obesitas dan Kekurangan Zat besi. semuanya menjadi makin tinggi sejak adanya pandemi. Semoga Edukasi mengenai 3 hal ini terus dilakukan, agar masyarakat sadar akan pentingnya kesehatan. Isi Piringku juga hal penting diinfokan kepada masyarakat.

    ReplyDelete
  11. wah sangat bermanfaat, terimakasih atas informasinya ya kak :D

    ReplyDelete
  12. cegah anemia, dengan mengkonsumsi byk makanan bergizi khususnya yg mengandung byk vitamin B dan mengandung zat besi

    ReplyDelete
  13. wah, kisahnya hampir mirip mbak sama saya. Bedanya pas itu saya hamil di luar kandungan. semoga kita ga mengalaminya lagi ya mbak.

    ReplyDelete
  14. bener nih kunci penting memutus mata rantai anemia di Indonesia ya dengan memastikan kecukupan gizi yang berimbang jadi jangan ada lagi deh kasus anemia ke depannya yaaa

    ReplyDelete
  15. Edukasi yang tepat bisa mengubah masa depan bangsa yaa..
    Anak-anak Indonesia sehat dan cerdas, jauh dari ADB dan stunting.

    ReplyDelete

Post a Comment

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29

back to top