Friday, September 2, 2016

Mengenal Tradisi Topeng Sekura Lewat Jelajah Semarak Budaya, Lampung Krakatau Festival 2016

Mengenal Tradisi Topeng Sekura Lewat Jelajah Semarak Budaya,
Lampung Krakatau Festival 2016

Dari beberapa acara Lampung Krakatau Festival 2016 yang saya datangi masih ada satu nih yang belum dibagi ceritanya yaitu acara Jelajah Semarak Budaya. Acara ini diselenggarakan Minggu, 28 Agustus 2016 lalu dan berlokasi di Jalan Raden Intan serta Tugu Adipura Bandar Lampung. Menurut info dari panitia di selebaran yang dibagikan di acara Jelajah Layang-Layang, di acara ini akan ada atraksi gajah, marching band, parade seni 15 kabupaten serta parade mobil hias. 


Yang terbayang setelah membaca info di selebaran adalah acaranya berkonsep seperti karnaval. Pasti meriah dong ya. Ah jadi penasaran. Apalagi tahun lalu saya nggak melihat acaranya. Menyesal juga sih karena tahun lalu lokasi acaranya di dekat rumah Mbah Uyutnya Rayyaan. Kan bisa mampir sekaligus melihat karnavalnya. Tahun ini sebelum datang ke acaranya saya dan suami sudah merencanakan mau datang jam berapa dan parkir di mana. Maklum deh kalau ada acara semacam ini dan kita mau datang dadakan untuk menonton yang ada malah kena macet di jalan dan susah cari parkiran.

Siap nungguin karnaval dan gajah he he.

Paginya kami mampir dulu ke rumah Eyangnya Rayyaan lalu jam 1.30 (setelah makan siang dan sholat) kami berangkat menuju Plaza Lotus yang terletak di Jalan Raden Intan. Parkiran mobil masih cukup banyak yang kosong dan kami masih kebagian parkir di tempat yang teduh. Sambil menunggu jam 2.30 kami duduk-duduk dulu di food courtnya sambil ngemil dan minum es teh. Hari memang cukup panas. Di food court ini kami melihat banyak peserta acara hilir mudik menuju Lapangan Saburai yang memang terletak tepat di belakang Lotus Plaza. Jam 2.30  ternyata sudah banyak peserta karnaval Jelajah Semarak Budaya yang berbaris di jalan di belakang Lotus Plaza. 

Baca: 10 Food Truck Meriahkan Acara Jelajah Rasa Lampung Krakatau Festival 2016.





Wuih pakaian yang dikenakan para peserta memang meriah sekali. Nggak heran kalau jadi sasaran foto bersama he he. Rayyaan juga sempat berfoto bersama beberapa peserta, termasuk Om dan Tante murah senyum yang memakai baju pengantin adat Lampung Pepadun yang berwarna putih. Tapi kok banyak peserta yang memakai topeng ya? Lebih tepatnya sih sebagian besar memang memakai topeng. Rupanya karena tema karnaval tahun ini adalah Topeng Sekura.

Baca: Pembukaan Jelajah Pasar Seni Lampung: Pertunjukan Budaya dan Keindahan Alam Lampung.

Sekura Kamak.

Sekura Betik.
Sekura adalah bahasa Lampung untuk topeng. Ada tradisi unik yang dimiliki masyarakat Desa Kenali, Lampung Barat untuk merayakan Idul Fitri. Setiap hari kedua Idul Fitri hingga seminggu sesudahnya masyarakat Desa Kenali akan berkeliling kampung sambil memakai topeng dengan berbagai ekspresi wajah. Tradisi pesta topeng ini masih tetap terjaga hingga kini. Ada dua jenis sekura yang biasa dikenakan yaitu sekura kamak dan sekura betik.

Sekura kamak terbat dari kayu yang dipahat. Selain itu pemakainya yang biasanya adalah pria dewasa juga memakai baju compang-camping serta aksesoris daun-daunan. Sementara sekura betik topengnya berupa kain untuk menutupi wajah dilengkapi dengan kacamata hitam dan biasanya dipakai remaja laki-laki. Benar-benar pengetahuan baru nih buat saya. Meski bukan suku asli Lampung tapi saya lahir dan besar di sini dan saya baru tahu lho soal tradisi topeng sekura ini #tutupmuka


Di acara ini memang kami melihat ada yang memakai sekura kamak dan sekura betik. Peserta yang memakai sekura kamak (topeng kayu) ada yang memakai baju terbuat dari daun pisang kering dan ada juga yang memakai baju dari kain yang dibentuk seperti daun. Sementara peserta yang memakai sekura betik, sekura atau topengnya berupa kain sarung yang dipakai sedemikian rupa hingga hanya matanya yang tidak tertutup kain lalu mereka melengkapi penampilannya dengan kacamata hitam.

Sementara peserta lain kebanyakan memakai topeng untuk karnaval yang topengnya bling-bling. Ditambah lagi kostumnya kebanyakan merupakan paduan warna-warna terang dengan aksesoris atau kain berwarna emas atau perak. 

Baca: Buat Layang-Layangmu Sendiri di Jelajah Layang-Layang Lampung.



  
Dari belakang Plaza Lotus kami berjalan menuju Jalan Raden Intan (sambil foto-foto he he). Ternyata karnvalnya akan dimulai dari pojokan toko buku Gramedia. Peserta yang dijadwalkan start pertama sudah menunggu di sana. Usia pesertanya beragam ya mulai dari ibu-ibu, bapak-bapak, para abege (pelajar) sampai anak-anak. 

Ada pembawa acara yang sudah setia berdiri di bawah rindangan pohon di sudut jalan. Ternyata beberapa ekor gajah sedang berjalan mendekat! Rayyaan jadi ogah deh lanjut ke arah Tugu Adipura. Mau menunggu di samping Gramedia aja. Untungnya saya sudah sedia topi, payung, minuman, cemilan, sampai baju untuk Rayyaan. Cuma si Papa saja yang malah lupa bawa topi. Nggak apa-apa deh, kita berteduh di bawah payung ungu aja hi hi.



Jadwal acara Jelajar Semarak Budaya ini sebenarnya jam 2.30 tapi acara baru dimulai jam 3.00 menunggu kedatangan Bapak Gubernur Lampung M. Ridho Fircado. Jalanan macet ya, Pak. Yah sudah terbayang deh. Soalnya beliau datang dari arah Ramayana, dari jauh kami sudah melihat macetnya seperti apa.

Jam 3.00 sore acarapun dimulai. Bapak Gubernur Ridho Ficardo ditemani dengan ditemani Kapolda Lampung Brigjen Pol Ike Edwin berjalan dari depan Gramedia ke Tugu Adipura yang letaknya tidak jauh. Setelah itu peserta lainpun menyusul. Tuh gajahnya juga ikut karnaval. Di atas gajah itu selain ada pawangnya juga ada perwakilan Muli Mekhanai Lampung. Eh pawangnya juga ikutan pakai topeng lhooo.


Selain gajah juga ada marching band. Peserta dari tiap kabupaten juga menampilkan keunikan tersendiri. Misalnya ada yang membawa miniatur tugu daerahnya, membawa panjat pinang mini, ada yang menampilkan atraksi akrobatik, dan tentunya menampilkan berbagai baju meriah dilengkapi topeng. Ada rombongan yang memakai baju pengantin adat Lampung. Ada juga yang memakai kostum unik tapi masih dengan sentuhan Tapis. Tapi ada juga yang memakai baju dengan perpaduan adat Lampung dan adat daerah lain. Tapi judulnya meriah sekali deh. Acara ini juga mendapatkan rekor MURI karena diikuti sebanyak 1.500 peserta bertopeng.




Khusus untuk baju adat Lampung memang identik dengan sentuhan warna emas baik dari aksesoris maupun sulaman tapisnya sehingga baik baju adat ataupun kostum yang dipakai para peserta terlihat wah. Nggak heran dong ya kalau banyak yang terpukau dengan kostum dengan sentuhan adat Lampung yang dipakai atlet Indonesia di acara pembukaan Olimpiade Rio 2016 lalu. Ada satu sih yang membuat penasaran, itu kostumnya berat nggak ya hi hi. Apalagi peserta yang perempuan banyak yang memakai high heels. Semangat ya Mbaaak! Cantik-cantik deeeeh.






Di Tugu Adipura ada panggung untuk Bapak Gubernur beserta jajarannya. Di depan panggung ini peserta karnaval akan menyajikan berbagai atraksi dan tarian. Tapi saat kami sampai di sana di sekitar tugu sudah penuh orang. Jadi nggak bisa menyaksikan tari-tariannya deh, hanya bisa mendengar suara pembawa acara plus musiknya saja. Pertunjukkan oleh peserta karnaval ini ada yang berupa kolaborasi dari beberapa kabupaten. Dan di puncak acara akan diterbangkan 1.883 balon yang melambangkan tahun terjadinya letusan Gunung Krakatau yang maha dahsyat tepat 133 tahun lalu (tanggal 26-27 Agustus 1883). 


Kami juga nggak mengikuti acaranya sampai selesai. Karena sudah capek foto-foto akhirnya kami duduk-duduk di pos polisi. Di sini ada balon-balon warna-warni yang akan diterbangkan. Balonnya sempat dimainkan Rayyaan nih. Duh anak-anak mah nggak bisa lihat balon ya. Jam 4.30 kami putuskan untuk kembali ke Lotus Plaza untuk sholat. Eh di jalan masih ada beberapa mobil hias dan juga rombongan peserta perwakilan dari masyarakat Bali yang ada di Lampung. Mobilnya juga bagus lho, ada kudanya. 


Baju Penganting Pepadun.

Baju Pengatin Sai Batin (Pesisir).

Selesai sholat kami kembali ke food court, butuh es teh he he. Meski capek (terutama Papa nih yang sempat gendong-gendong Rayyaan he he, terima kasih ya Papa) tapi senang bisa mengajak Rayyaan melihat acara ini. Selain bisa melihat gajah Lampung yang ndut dan lucu, Rayyaan juga bisa melihat peserta yang memakai topeng sekura tradisi khas masyarakat Lampung Barat. Bisa foto-foto juga, terutama dengan Om dan Tante yang memakai baju pengantin adat Lampung Pepadun dan Sai Batin. Selama ini cuma melihat patungnya saja ya he he. Sekarang jadi Rayyaan jadi punya dua foto masing-masing dengan 'pengantin' Lampung dengan baju adat yang berbeda. Dari empat acara Lampung Karakatau Festival 2016 yang saya datangi ada beberapa catatan nih, bisa dibilang semacam saran-saran untuk penyelenggaraan tahun berikutnya:

1. Di acara Jelajah Pasar Seni mungkin bisa diadakan semacam workshop membuat sulam tapis baik untuk umum dan pelajar. Sepengetahuan saya nih pelajaran muatan lokal sulam tapis hanya ada saat SMP. Selain itu juga bisa diadakan workshop tentang aksara Lampung. Jujur saja nih, saya sudah lupa cara menulis dan membaca aksaranya hu hu hu. Untuk anak-anak yang lebih kecil mungkin bisa diadakan lomba melukis atau mewarnai dengan tema seputar budaya Lampung. Terkesan standar banget ya, lomba mewarnai dan melukis. Tapi mewarnai dan melukis selain baik untuk mengembangkan otak anak juga baik untuk mengenalkan seni dan budaya Lampung pada mereka. Atau sekalian juga nih workshop memainkan alat musik dan lagu Lampung. Duh banyak banget maunya si emak hi hi.

2. Panitia diharapkan lebih informatif mengenai jam dimulainya acara. Di selebaran yang dibagikan hanya ada keterangan tanggal dan tempatnya saja jadi yang ingin datang banyak bertanya-tanya soal mulainya jam berapa sih? Mau nggak mau harus lebih pro aktif nih tanya-tanya ke panitia ntah lewat Twitter atau Instagram, tapi bisa jadi nggak semua pertanyaan sempat terbaca atau terjawab. 

3. Di acara Jelajah Layang-Layang terutama saat workshop perlu ada panitia yang menertibkan orang tua peserta. Orang tunya? Iya, anak-anaknya sih cukup tertib, tapi beberapa orang tua justru berebut dan nggak mau antri lho. Perlu ada panitia yang galak mungkin ya ha ha. Kalau yang ini catatan buat para orang tua deh. Mari beri contoh yang baik ke anak-anak.

4. Di acara Jelajah Rasa dan Jelajah Semarak Budaya sebaiknya jumlah kotak sampahnya ditambah. Kadang ada yang malas mau membuang sampah karena kotaknya jauh sekali di ujung lapangan jadi ya dibiarkan saja di meja sampai ada yang membereskan atau diambil pemulung. Saat acara karnaval kemarin juga banyak yang membuang sampah sembarangan (ini catatan juga bagi warga Lampung termasuk saya ya). Sebenarnya ada rombongan peserta yang meletakkan kotak air mineral kosong untuk membuang sampah bekas air mineral. Eh tapi kotak beserta isinya dibawa pemulung ha ha. Menemukan kotak sampah di depan salah satu mini market tapi ya kotak sampah lain ntah ada di mana. Kalau ada acara-acara yang membuat warga berbondong-bondong datang panitia juga harus aware terhadap potensi sampahnya. Pengunjung juga jangan membuang sampah sembarangan ya.

Apalagi ya catatannya? Mungkin ada yang mau menambahkan? Last but not least semoga tahun depan acaranya lebih meriah dan bermanfaat terutama untuk mengenalkan dan melestarikan budaya plus potensi pariwisata Lampung. 

14 comments:

  1. yah gak liat nih acaranya hiks hiks, pasti seru ya
    semoga tahun depan bisa lihat

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Indah tinggal di manakah? Metro ya?

      Delete
  2. Kereeeeen... Lengkap banget postingan rangkaian kegiatan Festival Krakataunya. Memang mantap deh, Mbak Heni ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Mbaaak. Moga2 someday kita bisa ikut ke Anak Krakatau yaaa aamiin aamiin...

      Delete
  3. kerennn pawainya pakai topeng, klo anakku lihat pasti ketakutan. dia masih takut sama yg topeng2 gitu :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mungkin kalau lihatnya sambil pakai topeng juga jadi nggak takut Mbak hi hi

      Delete
  4. Di Lampung sering ya festival atau karnaval seperti ini...seru jadinya. Jadi pengen suatu saat liat langsung festival sekura...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau Krakatau Fest setahun sekali Mbak. Kalau lihat langsung sekuranya saya belum pernah, di kabupaten sih, pas lebaran pula he he

      Delete
  5. Lengkap banget infonya. Foto-fotonya kece.

    ReplyDelete
  6. keren keren.. mungkin kalau di solo mirip mirp dengan solo batik karnival kayaknya

    ReplyDelete

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29