Monday, August 28, 2017

Merdeka Adalah Bebas Dari Hoax

Merdeka Adalah Bebas Dari Hoax
Pic: slate.com

"Tadi Pak A bilang ada garam yang mengandung pecahan kaca. Pak A itu baca infonya di internet. Bener nggak?" 

Begitu tanya Eyangkungnya anak-anak kurang lebih 2 minggu lalu. Teman-teman pernah mendengar berita serupa? Atau malah sekarang sedang membahas berita lain yang masih seputar makanan, yaitu nasi Padang yang diduga mengandung plastik. Atau tentang beras yang kalau ditetesi yodium berubah warna jadi ungu artinya mengandung pil KB. Berita-berita tersebut sama seperti berita garam dan pecahan kaca, semuanya berita bohong alias hoax!

Hoax sebenarnya bukan hal yang baru. Kalau dulu namanya belum sekeren sekarang peredarannya masih dalam bentuk selebaran, beralih ke SMS, dan sekarang lewat internet. Istilah boleh kedengaran lebih keren tapi tetap saja artinya berita bohong dan 72 tahun sudah Indonesia merdeka namun ternyata kita belum merdeka dari hoax. Topik hoax ini juga disinggung Mak Nur Rochma di web KEB dan saya tertarik membahasnya lebih dalam.


Tidak semua berita yang beredar di internet itu benar.

Makin banyak warga Indonesia yang bisa mengakses internet. Mulai dari yang muda hingga yang tua bisa mengakses internet lewat smartphone. Sedikit-sedikit googling untuk mencari informasi tahu berita. Sedikit-sedikit buka Facebook. Namun tidak semua berita yang beredar di internet itu benar.

Ada orang yang (maaf) karena kurangnya ilmu lantas membuat kesimpulan yang salah tentang suatu produk dan lebih parah lagi, tanpa cross check lebih dulu menyebarkannya ke publik lewat internet terutama medsos. Selain karena kurangnya ilmu, ada motif lain yang bisa menjadi penyebab seseorang menciptakan hoax yaitu iseng, uang, kebencian, politik, hingga ideologi. 

Hoax yang saya tulis di atas hanya beberapa contoh berita bohong seputar makanan dan minuman. Beberapa tema lain yang sering menjadi bahan hoax adalah muatan sosial politik, kesehatan, penipuan keuangan, iptek, hingga berita duka dan bencana alam. Contohnya hoax lainnya adalah virus HIV yang dimasukkan ke pembalut, ikan lele mengandung 3.000 sel kanker, vaksin MMR menyebabkan autisme, sampai memancing hujan dengan baskom berisi air garam.

Sayangnya masih banyak yang percaya.

Syukur alhamdulillah ayah saya tidak sampai galau karena hoax semacam itu. Walau sempat heran tapi masih mau bertanya ke anaknya soal kebenaran berita tersebut. Sayangnya banyak juga lho yang terpengaruh. Apalagi kalau yang jadi obyek berita bohongnya adalah produk pangan dan dibagikan ke grup masak-memasak. 

Saya ingat betul banyak ibu-ibu galau karena hoax soal kerupuk dan cracker yang menyala saat dibakar. Saya termasuk yang ikut senam jempol membagikan link penjelasan dari BPOM saat sang thread starter belum muncul lagi untuk menghapus postingannya he he. Begitu pula saat ada yang membuat berita palsu tentang sebuah merk es krim. Sudah ada teman si pembuat status yang menegur, namun hoax tersebut sudah terlanjur dipercaya banyak orang dan dibagikan puluhan ribu kali di Facebook. 

Hoax lama beredar kembali.

Beberapa waktu lalu hoax tentang beras mengandung pil KB mampir ke linimasa Facebook saya, lagi. Tidak hanya sekali dua kali saya melihat peredaran hoax yang berulang. Tidak hanya di medsos tapi juga di grup-grup Whatsapp. Kapan ya linimasa dan grup WA saya merdeka dari hoax? He he... Padahal sebenarnya bukannya tidak ada 'berita tandingan' yang menjelaskan bahwa hoax tersebut tidak benar. Tapi seringkali berita yang benar kalah pamor untuk dibagikan dibanding berita hoaxnya.


Pic: kompasiana.com

Bisa merugikan orang lain.

Membuat dan menyebarkan hoax bisa merugikan orang lain. Minimal ya membuat resah. Contohnya berita bohong tentang anak yang diculik dan dimbil organ tubuhnya. Selain itu bisa juga berdampak buruk terhadap produk yang jadi sasaran berita bohong. Contohnya pedagang kerupuk yang omsetnya menurun karena orang jadi khawatir ingin membeli kerupuk. Apa kerugian lainnya? Membuat dan menyebarkan hoax sama dengan membuat dan menyebarkan fitnah. Dosa nggak tuh? Apalagi kalau tulisan tentang hoaxnya disebarkan ribuan kali di medsos. 

Jangan telan informasi bulat-bulat. 

Saat mendapatkan informasi dari internet terutama medsos, sebelum mempercayainya lebih baik kita melakukan cross check kebenarannya dari sumber-sumber yang valid. Apalagi sebelum memutuskan untuk ikut menyebarkannya. Salah satu hal yang paling menyebalkan adalah hoax yang disebar seseorang dengan embel-embel "Copas dari grup sebelah", "Nggak tau benar atau nggak, saya cuma ikut share aja." atau "Ada info xxx, silakan cek kebenarannya." Halooo... Harusnya yang menyebarkan yang ngecek duluan, iya kan? Jangan mengharapkan orang lain mau mengecek kebenaran beritanya kalau kita sendiri malas mencari tahu. 

Kenali ciri-ciri hoax.

Sudah pasti kita tidak mau dong jadi orang yang ikut menyebarkan hoax. Apalagi kalau sampai menguntungkan si pembuat berita bohong. Karena itu kita harus mengenali beberapa ciri berita hoax, yaitu: 1) Biasanya menggunakan judul yang provokatif atau bombastis, 2) Sumber beritanya tidak kredibel, dan 3) Foto tidak sinkron dengan isi berita. 

Saring sebelum sharing.

Berita yang baik belum tentu benar. Begitu pula sebaliknya, berita yang benar belum tentu baik. Tidak semua berita yang benar pantas untuk disebarkan. Selain itu kita perhatikan lagi apakah berita yang baik dan benar tersebut bermanfaat untuk dibagikan. Semoga dengan melakukan penyaringan sebelum sharing atau membagikan suatu berita kita bisa mengurangi penyebaran berita bohong karena merdeka adalah bebas dari hoax yang meresahkan dan merugikan warga Indonesia.

Pic by: Emak Gaoel

No comments:

Post a Comment

Silakan berkomentar yang sopan, tapi jangan beri link hidup di postingan ya. Terima kasih sudah berkunjung :)


Hubungi lewat: itshenipuspita@gmail.com
Jangan lupa follow IG @henipuspita29 @letsplayandlearn
Twitter @henipuspita29